"Kapolri harus berani megganti pejabat personalia. Ganti yang baru dengan visi yang baru. Baru itu akan terasa. Kalau dilakukan, saya rasa punya harapan, tapi kalau tidak masih terlalu lama," kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Haryatmoko saat menjadi pembicara dalam Seminar Sespimti Polri di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Selasa (12/11/2014).
Dia mengatakan untuk menerapkan revolusi mental, petinggi Polri juga harus bisa memberikan contoh terhadap jajaran bawahannya. Menurutnya, karakter komunikasi di Polri yang bersifat vertikal memerlukan contoh moralitas baik dari pimpinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pimpinan harus bisa terbuka dengan kritikan. Kalau di minta akan hal-hal seperti ini yaitu mengubah mental itu jangan sampai mengubah persepsi. Harus sama persepsi," sebut dosen yang juga Training Director Indonesia Center for Ethics (ICE) itu.
Lanjutnya, upaya lain adalah melakukan seleksi ketat mulai dari rekruitmen. Dia meyakini kalau perekrutan Polri harus memperhatikan aspek kompetensi etika dan leadhership.
"Misalkan setiap pengangkatan harus ada tes kompetensi. Kompetensi ini soal etika dan kompetensi leadhership. Civil society harus bisa membantu untuk mengevaluasi Polri," katanya.
(hat/ndr)











































