"Kalau orang NU itu terima amanah dari negara, wajib diterima," kata As'ad di gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/2014).
As'ad tampak tak ambil pusing soal namanya yang menjadi kandidat kepala BIN. Menurutnya, namanya muncul karena ada kedekatan dengan kelompok masyarakat yang ingin dirinya menjadi kepala BIN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian As'ad menilai sosok kepala BIN yang ideal adalah yang tidak hanya pandai beretorika namun juga mengumpulkan informasi yang komprehensif. Bukan informasi sektoral.
"Pertama (kepala BIN) itu harus profesional, punya kemampuan dan artinya tahu perkembangan dunia intelejen dan zaman. Ia juga harus mampu melakukan pendekatan komprehensif," ujar As'ad.
"Bukan hanya pendekatan sektoral tapi komprehensif. ISIS misalnya, kan nggak bisa retorika saja tapi juga pendekatan agama dan kemanusiaan," tutupnya.
(vid/fjr)











































