Ini Penjelasan Suporter Persib Viking Terkait Insiden di Tol JORR

Ini Penjelasan Suporter Persib Viking Terkait Insiden di Tol JORR

- detikNews
Senin, 10 Nov 2014 15:44 WIB
Jakarta -

Insiden terjadi antara suporter Persib dan Persija di Tol JORR, Jagakarsa, Jaksel. Versi polisi, sebelum aksi pelemparan antara suporter Persib dan warga terjadi, rombongan ini diduga sempat berhenti di dalam tol sambil membakar api unggun. Akibatnya tol sempat mengalami kemacetan hingga 1 kilometer.

Namun keterangan berbeda disampaikan pihak suporter Persib Viking. Dalam keterangannya yang dikirim ke redaksi, Senin (10/11/2014), mereka mengaku dicegat.

"Kami turut prihatin dan menyesalkan telah terjadi peristiwa pencegatan dan perusakan bus rombongan Bobotoh oleh manusia-manusia barbar di beberapa ruas jalan tol Merak sampai Jakarta. Penyerangan terjadi mulai dari Pelabuhan Merak, sampai Jakarta. Penyerangan terjadi mulai dari Pelabuhan Merak, ruas Tol TB Simatupang, Ps Rebo, Kebon Jeruk sampai Tol Cikarang," kata Koordinator Viking Firman Fauzi soal insiden di Tol JORR, Minggu (9/11) malam:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, pencegatan dan perusakan itu tidak bisa dipandang sebagai tindakan iseng, melainkan tindakan serius yang dilakukan secara terencana, massif, dan teroganisir. Alat yang digunakan untuk melakukan penghadangan berupa, balok, batu, pedang hingga bom Molotov.

"Kami menuntut pihak kepolisian untuk menindak tegas prilaku kekerasan yang terencana, massif dan teroganisir ini. Menuntut kepolisian untuk memanggil para pengurus Jakmania guna dimintai pertanggungjawaban atas insiden ini. Mengenakan atribut atau tidak, mempunyai kartu anggota atau tidak, sudah jelas dari mana pelaku tindakan barbar ini," terang Firman.

"Kami menolak penggunaan kata oknum, sudah sangat jelas siapa pelakunya. Hanya suporter Persija yang sanggup melakukan serangan massif ini. karena bobotoh memang tidak punya persoalan dengan warga Jakarta, atau ormas-ormas di Jakarta lainnya," tambah dia.

Viking menuntut PSSI untuk tidak diam dan membiarkan begitu saja penyerangan yang terencana, massif dan terorganisir. Kasus kematian Rangga di GBK pada 2012, penyerangan terhadap bus Persib saat hendak bertanding melawan Persija, disebut Firman adalah contoh bagaimana hukuman yang diberikan PSSI sama sekali tak memberikan efek jera.

"PSSI harus mengambil sikap yang lebih keras," tambahnya.

Firman meminta polisi dan PSSI menyikapi insiden secara serius dan tegas karena akan menjadi sinyal kepada bobotoh untuk bersikap sesuai hukum. Pembiaran dan tanpa sikap tegas dari mereka yang memiliki kewenangan, hanya akan membuat kesabaran bobotoh tidak akan terbendung lagi.

"Hanya sikap tegas dari aparat kepolisian dan PSSI yang bisa mencegah bobotoh melakukan tindakan balasan yang akan memperumit keadaan. Mengimbau kepada Bobotoh untuk fokus pada perayaan kemenangan Persib Bandung dan tidak menghabiskan energi. Untuk melakukan sweeping pada kendaraan-kendaraan Plat B dan melakukan perusakan pada fasilitas-fasilitas umum," terang Firman.

Firman berharap, agar media untuk melihat perkara ini dengan adil. Bobotoh tidak hendak merusuh di Jakarta. Bobotoh hanya melintas di tol untuk pulang ke Bandung.

"Tawuran bukan kata yang tepat bagi kami yang hendak berpesta. Pencegatan, penyerangan, dan penyerbuan adalah kata yang pas untuk insiden tadi malam. Jika ada kendaraan Plat B yg rusak selama konvoi, kami siap tanggung jawab. Walikota Bandung juga sudah inisiatif. Mengganti dengan semampu-mampunya. Ini moralitas Bandung yang siap bertanggung jawab, bukan seperti kalian yang lempar batu sembunyi tangan," tutup Firman.

(ndr/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads