Derita Nuryati Jadi PRT: Tak Digaji, Babak Belur dan Tidur di Dapur

Derita Nuryati Jadi PRT: Tak Digaji, Babak Belur dan Tidur di Dapur

- detikNews
Senin, 10 Nov 2014 15:47 WIB
Derita Nuryati Jadi PRT: Tak Digaji, Babak Belur dan Tidur di Dapur
Kondisi Nuryati yang memprihatinkan (Rini/detikcom)
Jakarta - Gadis berumur 20 tahun ini tak tampak seperti‎ gadis seusianya. Dengan kepala yang hampir plontos, badan wanita dengan nama lengkap Lis Nuryati asal Pemalang, Jawa Tengah ini tampak ringkih. Badannya penuh bekas luka karena kerap disiksa.

Ditemui wartawan di Mapolres Jakarta Selatan, Senin (10/11/2014), dengan suara yang amat pelan,‎ Nuryati menceritakan pertama kali bekerja bersama majikannya sekitar 5 bulan yang lalu. Saat itu, dirinya yang baru saja datang dari Pemalang bertemu dengan AD (53) di sebuah masjid di kawasan Jakarta Kota.

"Waktu itu saya diajakin untuk kerja sama bu AD sebagai pembantu dengan upah Rp 350 ribu sebulan," kata gadis yang menempuh jenjang pendidikan hanya sampai kelas 1 SD ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nuryati yang saat itu belum memiliki pekerjaan dan buta dengan kawasan Jakarta akhirnya menerima tawaran AD. Ia diminta bekerja di rumah saudara perempuan AD yang bernama AF (65) di kawasan Kramatjati, Jakarta Timur.

Namun sayang, ketika bekerja sebagai pembantu di sana, Nuryati malah kerap dipukuli. Penyebabnya terkadang hanya‎ karena masalah sepele. Selama lebih kurang 5 bulan bekerja, Nuryati juga tidak mendapatkan gaji sepeserpun.

"Waktu itu rambut saya dipotongin karena saya ngerusakkin baju anaknya yang harganya Rp 500 ribuan. Karena kesel, dipotong deh," kata Nuryati‎ pelan saat ditanyakan awal mula rambutnya dipotong plontos.

Tak hanya di Kramatjati, menurut Nuryati, dia juga sering mengalami pukulan dan siksaan ‎ketika dibawa ke rumah AD di Mampang. "Mata saya merah dan kemarin diperban gara-gara saya ngerusakin souvenir bedug," lanjutnya.

Untuk makan, Nuryati memang diberikan secara teratur 3 kali sehari. Namun, dia hanya diperbolehkan makan nasi dengan garam.

"Makan boleh ambil sendiri, tapi cuma sama garam. Kalau tidur, di deket tempat cuci piring di dapur," ucap Nuryati lirih.

Karena kasus penyiksaan terhadap Nuryati itu, petugas polisi dari Mapolres Jakarta Selatan, kemudian menangkap 3 nenek-nenek. Mereka adalah AD (53), AY (54), dan AF (65).

Namun kepada polisi, ketiganya tidak mengakui perbuatannya kerap menyiksa Nuryati. Mereka mengaku melakukan penganiayaan karena kesal korban naksir dan sering mengintip anak lelaki AD saat tidur.

"Alasan mereka memukuli adalah karena kesal anak mereka ditaksir korban," ujar Kasat Reskrim Polres Jaksel, Kompol Indra Fadillah Siregar, kepada wartawan di Mapolres Jaksel, Senin (10/11/2014).

Namun, pengakuan ketiga nenek itu dibantah oleh Nuryati. "Nggak pernah saya ngintipin. Saya aja nggak tahu nama anaknya siapa. Saya cuma tahu, ibu AD punya anak laki dua orang, cuma itu," ucapnya.

Nuryati ditemukan dalam keadaan yang menyedihkan dengan bekas luka-luka di kediaman AY, di Perum Reni Jaya, Pamulang, Tangerang Selatan pada 5 November lalu. Warga yang sempat melihat kondisi Nuryati nekat menggedor rumah AY untuk mengeluarkan Nuryati dari sana.

Setelah Nuryati‎ diamankan, warga lalu melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Pamulang sebelum akhirnya diproses di Mapolres Jakarta Selatan. Saat ini, ketiga pelaku yang telah berusia lanjut ini telah diamankan polisi. Mereka juga dikenakan pasal 170 KUHP dan Pasal 44 UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

(rni/bar)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads