Ada satu cerita menarik di balik pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan Presiden Joko Widodo. Pengamanan yang diberikan pada Obama sangat ketat. Bahkan berlapis-lapis untuk bisa meliput kegiatannya.
Obama baru tiba di Beijing pagi tadi, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, Senin (10/11/2014). Dia langsung bertemu dengan Presiden Joko Widodo Hotel Westin. Jokowi adalah presiden pertama yang ditemui Obama di Beijing.
Untuk meliput pertemuan itu, wartawan sudah merapat ke Westin sekitar pukul 10.00 WIB. Butuh pemeriksaan keamanan dan persiapan lain selama satu jam sebelum bisa meliput kegiatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jurnalis Indonesia masuk lewat gerbang sebelah kiri lobi hotel. Di sana, sudah menunggu tim yang mengurusi media dari pihak Amerika Serikat. Namun sempat terjadi kendala. Meski sudah mendapat clearence dari pihak AS, ternyata keamanan Tiongkok tak memberi izin media Indonesia masuk. Ada sesuatu di ID card wartawan yang bermasalah.
Akhirnya, para wartawan harus menunggu di luar hotel selama 15 menit. Sempat terjadi diskusi alot antara pihak keamanan AS dan Tiongkok, namun akhirnya bisa diselesaikan.
Begitu masuk ke dalam hotel, pengamanan sudah terlihat dari lobi. Identitas para wartawan diperiksa satu per satu, daftar nama dicek ulang, dan yang menarik, seluruh wartawan dan perwakilan KBRI yang mendampingi, harus berjalan berbaris satu per satu, tidak boleh bergerombol.
"Tolong berbaris ya," teriak salah seorang bagian keamanan.
Saat hendak masuk lobi, semua harus melalui X-Ray yang ketat. Foto dicocokkan, ID discan ulang, lalu tubuh diperiksa secara manual, setelah melalui pemindai. Selain pihak hotel dan keamanan Tiongkok yang memeriksa, dua orang anggota secret service berbadan kekar tampak mengawasi semua tamu yang masuk.
Setelah itu, pemeriksaan berlanjut di lantai dua. Sebelum masuk ke ruang tunggu, setiap orang diperiksa kembali secara manual menggunakan alat pemindai. Barang-barang yang dibawa ke ruang meliput Obama dan Jokowi kemudian diperiksa oleh tim khusus.
"Masukkan barang-barang anda ke ruangan nanti akan kami periksa," ucap anggota secret service.
Barang berupa recorder, kamera dan ponsel diteliti secara detail oleh tim khusus. Entah apa yang mereka lakukan, namun isi tas sudah terbuka dan berantakan ketika para wartawan dipersilakan masuk.
Sesampainya di ruang tunggu, wartawan yang ingin buang air kecil, tidak bisa sembarangan. Untuk menuju toilet, tetap harus dikawal oleh secret service baik dari Tiongkok maupun AS. Jumlah orang yang ke toilet dihitung saat masuk dan keluar. Hanya untuk memastikan tak ada yang diam di kamar mandi. Saat perjalanan ke toilet pun, para wartawan harus berjalan dengan berbaris.
Barulah, setelah melewati berbagai proses berlapis itu, kegiatan peliputan baru bisa dilakukan. Bentuk pengamanan seperti ini memang sudah menjadi ciri khas AS. Namun sepertinya jauh lebih ketat karena berada di Tiongkok, sebuah negara yang selama ini selalu bersaing dengan AS dalam hal apa pun.
(mad/mok)











































