Kongres PDIP, Berebut Orang Nomor 2?
Senin, 17 Jan 2005 13:45 WIB
Jakarta - Kongres PDIP yang akan berlangsung akhir bulan Maret 2005 mendatang di Nusa Dua, Bali, akan memilih ketua umum baru. Namun, sampai saat ini, belum muncul figur kuat untuk calon ketua umum, kecuali Megawati Soekarno Putri.Pantauan detikcom, baik dari berbagai DPC di berbagai daerah sampai DPP PDIP, belum ada figur atau calon baru yang berani bersaing dengan putri sulung Bung Karno ini. Meskipun ada nama Sophan Sophian yang maju dicalonkan menjadi ketua umum, tampaknya belum mampu menandinginya. Bahkan belakangan gerakan Sophan Sophian dan kawan-kawan tak banyak terpublikasikan."Sampai saat ini belum ada figur baru yang kami usung dalam konggres mendatang. Hanya Ibu Mega yang kami inginkan," kata Rahardjo, salah seorang pengurus DPC Brebes, Jawa Tengah, saat diminta komentar soal calon ketua umum PDIP mendatang.Demikian juga kabar yang berkembang di DPP PDIP Lenteng Agung, sampai saat ini figur Megawati Soekarno Putri dinilai masih kuat untuk menduduki kembali kursi puncak di partai berlambang kepala banteng gemuk ini. Toh, jika ada slentingan perlawanan, hanya dari kubu Arifin Panigoro yang dianggap kemungkinan cukup kuat."Dari hasil pemantauan teman-teman, aspirasi daerah masih menginginkan Ibu Mega. Saya kira beliau menjadi kandidat terkuat," kata Wakil Sekjen PDIP Mangara Siahaan beberapa waktu lalu.Tak heran jika isu yang berkembang kuat, kongres PDIP mendatang bukan ajang pemilihan Ketua Umum PDIP. Namun, karena masih kuatnya Megawati, maka yang seru adalah pemilihan Sekjen PDIP atau orang kedua di PDIP. Diperkirakan, pemilihan Sekjen ini tak kalah panas dengan pemilihan ketua umum.Sumber detikcom di PDIP menyebutkan bahwa strategi untuk memperebutkan sekjen PDIP telah dilakukan berbagai cara. Baik dengan membuat tata tertib pemilihan terpisah, maupun model paket. "Sekarang ini sedang digodok pemilihan sekjen terpisah dengan pemilihan ketua umum. Jadi Megawati tidak menjadi formatur tunggal untuk menyusun kepengurusan seperti tahun-tahun lalu. Tapi penyusunan dilakukan dengan sekjen terpilih," kata sumber tersebut.Strategi lainnya yang juga sempat mengemuka, pemilihan ketua dan sekjen satu paket. Namun, posisi ketua tetap Megawati, hanya posisi sekjen saja yang diajukan ada beberapa nama. Dan alternatif ke tiga, pemilihan sekjen diserahkan kepada formatur terpilih.Beberapa nama calon sekjen yang cukup kuat sekarang ini sudah mulai melakukan manuver. Diantaranya yang disebut-sebut mempunyai kans kuat Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, Panda Nababan, Sophan Sophian dan beberapa nama lain. Upaya Menghadang MegaIsu kongres akan diintervensi pihak luar berhembus kencang di kalangan internal PDIP belakangan ini. Megawati sempat melansir soal ancaman intervensi ini pada HUT PDIP ke 32 lalu, Senin (10/1/2005). Saat itu, Mega membocorkan bincang-bincangnya dengan mantan Ketum Golkar, Akbar Tandjung. Akbar mengingatkan kepada Mega agar hati-hati, jangan sampai "dikerjain" seperti dirinya.Selain itu, Sekjen PDIP Sutjipto saat membuka konferensi daerah PDIP Jateng, beberapa waktu lalu juga menyatakan hal senada. Sutjipto, antara lain, mengacu pengalaman Orde Baru ketika pemerintah tak menghendaki Mega memimpin PDIP. Namun pihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah akan mencampuri Kongres PDIP maupun partai-partai lain.Kekawatiran Mega dan Sucipto sangat terkait dengan konflik dan dinamika di tubuh partai berkepala banteng. Mereka mengkawatirkan munculnya tokoh-tokoh yang didukung pemerintah dengan dana yang besar seperti yang terjadi di Partai Golkar. Pihak yang dicurigai tersebut adalah mereka yang selama ini selalu mengkritik pedas ke kubu Mega ataupun "three musketeers" sebutan untuk Soetjipto, Pramono Anung dan Gunawan. Kubu yang dicurigai tersebut adalak kubu Kwik Kian Gie, Sophan Sophian,Arifin Panigoro, Roy BB Janis dan kawan-kawan. "Kami tak bisa sebutkan secara tegas. Tapi nama-nama itu beredar di kalangan internal PDIP," kata Wakil Sekjen Mangara Siahaan.Asal muasal sampai muncul nama-nama mereka dianggap sebagai kubu yang membawa misi pendukung Susilo Bambang Yudhoyono tak jelas benar. Hanya mereka pernah bertemu dengan SBY di Istana Negara saat lebaran (14/11/2004) lalu. Waktu itu, Arifin Panigoro, Sophan Sophian, Roy BB Janis serta Kwik Kian Gie datang ke istana.Setelah itu, Kwik dan kawan-kawan memprakarsai berdirinya Komite Pemurnian PDIP. Dengan atas nama komite maupun selaku Ketua Litbang, Kwik seringkali berujar bahwa PDIP tak bisa besar karena adanya gank three musketeers. Bahkan tak segan-segan Kwik juga menyoal kepemimpinan Megawati Soekarno Putri. " PDIP tanpa Megawati itu tidak ada apa-apanya? Itu memang betul sampai tahun 1999, akan tetapi belum tentu betul setelah tahun 1999 sampai sekarang," kata Kwik.Selain itu, masuknya Heru Lelono, mantan tim sukses SBY, menjadi Sekretaris Litbang PDIP dibawah pimpinan Kwik Kian Gie juga dicurigai sebagai upaya . Heru Lelono kepada wartawan Selasa pekan ini mengatakan bahwa banyak tokoh-tokoh muda yang layak menggantikan Megawati dari kursi Ketua Umum PDIP. "PDIP sudah waktunya penyegaran, regenerasi. Banyak tokoh PDIP yang mampu menggantikan Megawati. Sebut saja Sophan Sophian, Arifin Panigoro, Widjanarko Puspoyo dan lain-lain," kata Heru Lelono.Menanggapi munculnya calon-calon baru ini, Mega juga mengaku mendengar beberapa figur yang akan menggantikan dirinya sebagai ketua umum. Figur-figur itu, lanjutnya, baik yang muncul dari kalangan internal PDIP atau orang yang memang sengaja dimunculkan. Hanya, Mega tak merinci siapa orang-orang yang dia maksud. Mega mengaku tak khawatir dengan calon-calon lain. "Pada PAC-PAC (pengurus anak cabang, tingkat kecamatan, Red) saya ingin mengabari, yang namanya nurani akar rumput tidak pernah goyang dan sudah pasti tahu, siapa yang pas untuk akan dijadikan pemimpin mereka.Jadi, kalau nanti PAC-PAC mengusulkan nama-nama, saya akan melihat, karena saya sudah sangat peka. Pengalaman pribadi saya sejak tahun 1986, saya sudah merasakan pengalaman yang namanya penghianatan," kata Mega dalam pidato HUT PDIP lalu.
(jon/)











































