"Ya (membangun kereta cepat). Perlu saya sampaikan. Infrastruktur itu jangan terlambat, apalagi masalah hubungan kota dan kota, pulau dan pulau, semakin cepat dibangun semakin murah, semakin mundur akan makin mahal. Manfaatnya jadi hilang," kata Jokowi.
Hal tersebut disampaikan saat presiden dalam perjalanan dari Tianjin menuju Beijing menggunakan kereta cepat. Pria asal Solo itu ditemani Ibu Negara Iriana, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, dan Mendag Rachmat Gobel serta pakar dari CSIS Rizal Sukma.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini keputusan politik, kalau sudah diputus harus dikerjakan. Jangan menunda untuk urusan infrastruktur. Di Tiongkok ini bisa maju karena infrastruktur," tegasnya.
Jadi, kapan akan membangun kereta cepat di Indonesia? "Ya nanti dilihat, saya tak ingin mendahului. Kalau sudah konkret baru saya ngomong, kalau masih seperti ini saya enggak mau ngomong dulu," jawabnya.
Selain soal kereta cepat, Jokowi juga menceritakan hasil diskusinya dengan pemimpin Tiongkok siang tadi. Intinya, ayah tiga anak itu meminta hal yang konkret diwujudkan dalam kerja sama, seperti membangun rel kereta api dan lainnya. Jokowi juga punya permintaan khusus agar Asian Infrastructure Investment bank kantornya berada di Indonesia.
"Jadi ada aliran masuk ke kita. Sehingga pembiayaan infrastruktur jangka panjang ada dananya, karena itu menjadi rebutan hampir 20 negara," tambahnya.
"Enggak banyak, 50 persen itu ditutup oleh Tiongkok. Kita cuma Rp 5 triliun, itu pun dicicil per tahun," tambah Jokowi saat ditanya soal jumlah saham Indonesia di bank tersebut.
Soal poros maritim juga sempat disinggung Jokowi saat bicara dengan presiden Tiongkok Xi Jinping. Bakal ada sinergi antara program maritim Jokwi dan jalur sutera Tiongkok.
"Nanti menko dengan menko ketemu dulu, kalau presiden makronya dulu, kesepakatan dulu nanti di menko dan menteri," tambahnya.
(mad/rmd)











































