Worldhelp dan Anak-anak Aceh (2)
Pastikan: Fakta atau Sensasi
Senin, 17 Jan 2005 11:56 WIB
Jakarta - Sejauh ini memang belum ada pihak-pihak yang mengaku mengenal atau bekerja untuk Worldhelp. Jejak Henry dan Roy Lantang yang disebut-sebut sebagai partner Worldhelp juga masih belum jelas. Membawa ratusan anak orang anak dari Aceh juga bukan perkara gampang.Seperti dikatakan Direktur I Keamanan Transnasional, Brigjen Pol, Pranowo Dahlan, pasca bencana di Aceh, aparat keamanan telah melakukan berbagai langkah antsipasi. Antara lain mencegah perdagangan anak korban bencana. Polisi menjaga ketat setiap pintu keluar dari Indonesia. "300 orang itu jumlah yang sangat banyak. Jadi tidak mungkin lolos dari pantauan aparat di lapangan," kata Pranowo kepada detikcom.Fakta-fakta tersebut membuat banyak pihak meragukan pernyataan Ketua Worldhelp, Vernon Brewer. Pengakuan Brewer telah membawa 300 anak untuk dititipkan di Panti Asuhan nonmuslim hanya untuk mencari sensasi. Pernyataan-pernyataanya tidak benar."Berita itu tidak benar. Pendeta Vernon dari Worlhelp hanya membuat isu sensasional. Alasannya mungkin hanya ingin membuat sensasi lewat berita dan sebagainya," kata Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak.Namun demikian, lanjutnya, pemerintah tetap harus menyelesaikan masalah ini dengan bijksana. Pasalnya, di balik kasus ini mengintip isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar-golongan) yang bisa memecah belah masyarakat.Masyarakat juga harus meningkatkan peran sertanya. Mereka harus mau melaporkan ke polisi jika menyaksikan suatu hal yang mencurigakan. Misalnya ada rombongan anak-anak yang dibawa ke luar Aceh, baik lewat jalan darat, laut atau udara.Di sisi lain, masalah perbedaan agama tidak perlu terlalu ditonjolkan, khususnya dalam situasi darurat kemanusiaan seperti yang terjadi di Aceh. Sebab yang namanya bencana itu tidak beragama dan tidak bersuku. Yang jelas, semua agama membela kemanusiaan dan keadilan."Sungguh kita terganggu ketika seseorang menolong justru dipandang bahwa ini semacam soal rasialisme, perbedaan agama ditonjolkan berlebihan. Saya curiga justru kecurigaan ini berasal dari Jakarta bukan dari Aceh. Mestinya yang dihebohkan itu bagaimana bantuan itu tidak lancar, mapping kondisi pengungsi yang tidak tersentuh," kata aktivis kemanusiaan, Romo Sandiyawan.Hal senada disampaikan Ketua Umum Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Djoko Wiyono. Menurut Djoko, bantuan-bantuan asing untuk bencana Aceh jangan dipolitisir, termasuk juga dengan isu agama. Yang penting saat ini adalah mencari solusi bagaimana anak-anak di Aceh bisa segera lepas dari penderitaanya.Baik Djoko maupun Romo Sandiyawan juga mengaku tidak mengenal jaringan Worldhelp di Indonesia. Menurut keduanya, hal itu merupakan tugas aparat keamanan untuk mencari tahunya.Klarifikasi dan pengusutan atas pernyataan Brewer tersebut diperlukan agar semua kelar sehingga tidak menimbulkan saling curiga. Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin misalnya, mengaku mendaptkan informasi, bahwa anak-anak Aceh itu memang telah dibawa lari dari Aceh melalui Jakarta, dan kini sudah berada di luar Jakarta.Nah, sekali lagi untuk memastikan kebenaran informasi itu, aparat perlu bertindak nyata: melakukan klarifikasi dan penulusuran. Memang sulit untuk membawa 300 anak sekaligus dari Aceh ke kota lain dalam suasana yang serba terbatas ini. Tapi mungkin saja mereka dibawa pergi satu demi satu.Hanya kepastian yang bisa menghilangkan saling curiga.
(diks/)











































