Kegigihan melawan penjajahan Belanda diikuti Mangoendiprojo dari buyutnya, Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha. Nama ini dikenal sebagai pejuang asal Jawa Timur yang gigih mempertahankan daerah Ngawi dan Banyuwangi.
Meski mengalir darah pejuang, Mangoendiprojo punya pengalaman menjadi pegawai pemerintahan. Beberapa jabatan yang pernah diraih pria
kelahiran Sragen 5 Juli 1905 ini antara lain Asisten Wedana dan Wakil Kepala Jaksa Jombang. Karena rasa nasionalismenya, akhirnya Mangoendiprojo memilih bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta). Tidak lama lulus dari pendidikan, dia pun didapuk sebagai komandan batalyon di Sidoarjo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mangoendiprojo sempat menjabat sebagai bendahara Jawa Timur. Tapi, jabatan ini tidak bertahan lama karena ada perselisihan internal.
Dalam karirnya, dia juga pernah diangkat sebagai pimpinan TKR di Jawa Timur. Saat itu, dia punya amanah agar bisa menjalin komunikasi
dengan tentara sekutu. Namun, kejadian di area Gedung Perjuangan saat itu membuatnya naik pitam.
Saat itu, dia yang disandera memilih melawan sehingga upaya negosiasi dengan tentara sekutu mengalami kebuntuan. Adapun tentara sekutu Inggris dari kesatuan Gurkha enggan menyerahkan diri meskipun sudah terdesak oleh tentara serta pemuda Indonesia.
Hal ini lah yang berujung terhadap perang pada 10 November 1945 di Surabaya.
Lima bulan berselang setelah pertempuran di Subaya, Mohammad dipromosikan menjadi mayor jenderal dan Kepala Staf TNI. Pensiun dari tentara, dia menerima tawaran sebagai residen (gubernur) pertama Lampung. Mangoendiprojo wafat pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Bandar Lampung.
(hat/ahy)










































