Worldhelp dan Anak-anak Aceh (1)
Menelusuri Pernyatan Pdt Brewer
Senin, 17 Jan 2005 11:22 WIB
Jakarta - Informasi soal 300 anak Aceh yang dibawa ke panti asuhan Kristen di Jakarta itu berasal dari harian The Washington Post, edisi Selasa (11/01/2004) yang mengutip pernyataan pimpinan WorldHelp, Vernon Brewer. Worldhelp adalah sebuah kelompok misionaris yang bermarkas di Virginia, Amerika Serikat (AS). Dalam kesempatan itu Veron Brewer menyatakan, pihaknya telah berhasil memboyong sekitar 300 anak Aceh ke Jakarta. Lebih dari itu, ia mengaku telah mengantongi izin dari pemerintah Indonesia untuk urusan ini.Brewer mengaku ide untuk mengadopsi 300 anak itu datang setelah menerima pesan dari partnernya di Indonesia, yaitu Henry dan Roy Lantang pada 3 Januari 2005. Pesan itu menyatakan, keluarga Lantang telah menerima kabar 300 anak yatim piatu di bawah umur 12 tahun saat ini berada di bandara di Banda Aceh dan Medan. Mereka siap diterbangkan ke Jakarta.Untuk mengadopsi 300 anak Aceh ini, WordlHelp menggalang dana lewat situsnya. Sebelum diubah, situs tersebut berisi penjelasan bahwa masyarakat Aceh adalah kaum Muslim Sunni yang kuat memegang ajarannya. Situs itu menyatakan, Worldhelp bekerja sama dengan partner Kristiani di Indonesia yang ingin menanamkan "prinsip-prinsip Kristiani sedini mungkin," kepada 300 anak Muslim asal Aceh itu.Tentu saja pernyataan Brewer itu segera mengundang kontroversi. Sebab sepekan sebelumnya, Presiden SBY menegaskan bahwa pemerintah tidak mengizinkan adobsi anak-anak Aceh buat warga bukan Aceh. Bahkan, secara gamblang Menkokesra Alwi Shihab menyatakan, anak Aceh hanya boleh diadobsi oleh sesama muslim.Meskipun belum jelas kebenaran klaim Brewer tersebut, sejumlah tokoh muslim di Indonesia menyatakan ketidaksetujuannya. Mereka meminta Worldhelp mengembalikan anak-anak yang telah ditempatkan di panti asuhan atau di keluarga nonmuslim. "Jika tidak kami akan melakukan tindakan yang lebih tegas," kata Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin.Informasi yang diterima MUI, anak-anak Aceh itu memang dibawa lari dari Aceh melalui Jakarta. Namun kini anak-anak tersebut sudah berada di luar kota Jakarta. Pemerintah diminta serius menangani kasus ini untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Din juga mendesak pemerintah mengusir Worldhelp dan lembaga lainnya yang mempunyai tujuan sampingan di luar misi kemanusiaan di Aceh.Pemerintah sendiri membantah telah memberikan izin kepada Worldhelp. Lewat juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, pemerintah mengatakan pernyataan Brewer mengenai izin adopsi sama sekali tidak benar. Sesuai UU yang dikeluarkan, pemerintah tetap melarang anak-anak Aceh dibawa keluar kampung halamannya.Deplu meminta Worldhelp mencabut pernyataannya. Terkait hal ini, Deplu juga sudah memerintahkan KBRI di Washington untuk melakukan klarifikasi ke Worldhelp. Namun sampai hari ini, belum ada kabar dari KBRI di Washington mengenai hal tersebut.Yang jelas, Deplu juga sudah mencoba menghubungi Worldhelp beberapa kali. Sayangnya, upaya Deplu itu bertepuk sebelah tangan. Worldhelp tidak pernah berhasil dihubungi dan selalu menghindar. Worldhelp memilih mengirimkan email ke Reuters dan AFP. Dikatakan, soal pengiriman anak Aceh ke Jakarta itu tidak benar. Demikian pula soal izin pemerintah. "Jadi bisa dikatakan, Worldhelp sendiri sudah mengklarifikasi semua pernyataannya tersebut," tutur Marty.Selembar keterangan lewat email tentu tidak begitu saja bisa menjelaskan persoalan ini dengan gamblang. Pemerintah harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memberikan penjelasan yang lengkap serta rasional kepada masyarakat.Penyelesaian masalah ini juga harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Sebab jika tidak, bukan mustahil masalah ini berkembang menjadi persoalan yang lebih buruk dan mengalihkan perhatian kita dari kewajiban sesungguhnya di Aceh.Sayangnya, hal tersebut nampaknya belum terlihat. Polisi misalnya, boro-boro melakukan pengusutan mengetahui kasusnya saja belum. "Kasusnya seperti apa, tolong dijelaskan," kata Direktur 1 Keamanan Transnasional, Brigjen Pranowo Dahlan saat dihubungi detikcom, Minggu (16/1/2004) malam.Setelah dijelaskan secara singkat, Pranowo kemudian mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya, membawa 300 orang anak Aceh ke Jakarta apa lagi ke luar negeri sangat tidak mungkin. Pasalnya, pascabencana di Aceh aparat keamanan telah melakukan berbagai langkah antisipasi.Polisi telah melakukan inventarisir semua pintu keluar dari Indonesia, baik itu melalui jalan darat, laut maupun udara. Penjagaan di pintu-pintu tersebut dilakukan sangat ketat. Tiga ratus orang anak adalah jumlah yang sangat besar, sehingga tidak akan lolos dari pantauan aparat keamanan.Sementara itu, sejumlah pengasuh yayasan atau Panti Asuhan Kristen di Jakarta dan sekitarnya mengatakan tidak mengenal lembaga Worldhelp. Mereka juga mengaku tidak menampung anak-anak asal Aceh. Secara umum mereka juga sepakat bantuan kemanusiaan bagi Aceh harus dilakukan dengan tulus. Jangan dicampuraduk dengan niatan lain."Saya kurang tahu. Soal Worldhelp informasi yang saya punya hanya dengar-dengar kabar saja," kata James Panggabean, Ketua Panti Asuhan Yayasan Pendidikan Siloam, di Serpong, Tanggerang.Sedangkan Del Sasar, Ketua Panti Asuhan Yayasan Pelita Kasih, di Jatiwaringin, Jakarta Timur mengatakan, membawa anak Aceh keluar dari kampung halamannya merupakan tindakan yang tidak tepat. Apa yang akan dilakukan, termasuk soal pelayanan doa dan sebagainya, harus tetap dilakukan di Aceh."Kalau memang hanya misi kemanusiaan tidak harus dibawa keluar. Jika itu dilakukan justru akan menimbulkan berbagai prasangka, seperti kristenisasi dan sebagainya," ungkap Del.
(diks/)











































