AS Pahami Pembatasan Militer Asing di Aceh

AS Pahami Pembatasan Militer Asing di Aceh

- detikNews
Minggu, 16 Jan 2005 22:04 WIB
Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Paul Wolfowitz menyatakan pemerintah AS dapat memahami kebijakan pemerintah Indonesia tentang penetapan time line bagi pasukan asing di Aceh sampai 26 Maret 2005 mendatang. Menurut Paul, justru pemulihan Aceh semakin cepat akan semakin baik, sehingga militer asing akan segera menyelesaikan misi kemanusiaan lebih cepat. Untuk itu, pemerintah AS berharap pemerintah Indonesia dapat memaksimalkan peran-perannya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menlu AS Paul Wolfowitz kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (16/1/2005) usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Paul Wolfowitz didampangi oleh Dubes AS untuk Indonesia, Senator Kitt Bond dari Missouri dan Admiral Tom Fargo. Dalam penjelasan kepada wartawan, Paul berharap penanganan korban bencana alam di Aceh dapat dipercepat. Selain itu, pemerintah AS selama menggelar operasi di Aceh, sama sekali tidak mempermasalahkan batas waktunya. Termasuk masalah pengkoordinasian pasukan militer asing oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Justru Paul memuji langkah-langkah kerja sama yang dilakukan pemerintah RI dengan militer negara-negara lain.Ketika ditanya soal embargo, Paul mengakui sampai saat ini masih terjadi perdebatan di kalangan konggres AS mengenai pencabutan embargo, khususnya alat angkut TNI. Karena masih banyak sentimen di negerinya yang mengkhawatirkan peralatan dan kendaraan itu akan digunakan untuk mengangkut hal-hal yang selama ini dikhawatirkan."Kitra memehami masalah yang kini dihadapi Indonesia. Kami sedang mencari jalan keluarnya. Secara khusus hal sudah disampaikan kepada Presiden Bush. Saat ini kita sudah punya fund untuk bantuan spare part dan saat ini teknisi AS sudah berada di Jakarta, untuk memperbaiki pesawat Hercules C 130," ujarnya.Paul datang bersama rombongan pukul 19.30 Wib. Seperti tamu lainnya, sebelum memasuki komplek Istana Kepresidenan, Paul dan rombongan menjalani pemeriksaan yang dilakukan Paspamres, termasuk petinggi militer AS juga diperiksa dengan menggunakan metal detector. (jon/)



Berita Terkait