Korban Tsunami di RS Malahayati Diminta Bayar Biaya Kamar

Korban Tsunami di RS Malahayati Diminta Bayar Biaya Kamar

- detikNews
Minggu, 16 Jan 2005 15:03 WIB
Medan - Sungguh malang nasib Azhari Ras (33), korban tsunami dari Aceh Jaya. Dia kehilangan istrinya yang sedang mengandung 7 bulan dan kerabatnya. Azhari pun sakit parah. Tapi, setelah dioperasi dan dirawat di RS Malahayati, Azhari diminta membayar biaya kamar. Azhari dibawa kerabatnya ke RS Malahati pada 8 Januari 2005 lalu. Keluarganya membawa Azhari ke RS di Medan ini, karena ada informasi bahwa RS ini termasuk RS yang membebaskan biaya perawatan bagi para korban tsunami. Penyakit Azhari cukup parah. Dia mengalami patah rusuk kanan, saat menyelamatkan diri dari amukan tsunami. Paru-paru Azhari juga penuh dengan lumpur, sehingga pernafasannya terganggu. Setelah diterima RS Malahayati, Azhari pun dioperasi. Setelah operasi dilakukan, Azhari kemudian ditempatkan di ruang kelas I, ruang Asy-Syura III. Setelah delapan hari menjalani perawatan, keluarga pun berkeinginan membawa pulang Azhari, karena kondisinya membaik, meski belum pulih benar. Nah, saat akan dibawa pulang inilah, pihak RS meminta keluarga Azhari melunasi biaya perawatan dan biaya kamar. Terjadilah sedikit ketegangan antara keluarga dan pihak RS. Keluarga tidak mau membayar, karena perawatan di RS tidak dibebankan biaya alias gratis. Karena itu keluarga kaget saat diminta melunasi pembayaran, karena di dalam benak mereka, pasien tidak akan mengeluarkan biaya apa pun. Direktur Malahayati Keumala Nasrina menjelaskan, untuk korban tsunami, pihak RS hanya membebaskan biaya obat. Itu pun hanya obat generik dan obat-obat biasa serta jasa medis. "Sedangkan untuk biaya kamar, yang dibebaskan hanya kamar kelas III ke bawah," kata Keumala. Sementara itu, Endang (35), salah seorang kerabat Azhari, menyatakan, pihaknya tidak tahu menahu mengapa Azhari tiba-tiba ditempatkan di kamar kelas I setelah operasi. "Padahal, kami tidak meminta dia ditempatkan di kamar kelas I," kata Endang. Akhirnya, karena protes pihak keluarga, akhirnya terjadilah tawar menawar harga. Akhirnya diputuskan, yang harus dibayarkan pasien Azhari sebesar Rp 600 ribu. Setelah mendapatkan pinjaman dari kerabat, keluarga Azhari pun membayar biaya Rp 600 ribu dengan hati dongkol. "Sebenarnya perawatan masih dibutuhkan di RS ini, karena Azhari belum pulih benar. Tapi, karena biaya dan pasien tidak nyaman di RS ini dan minta dipulangkan, ya kita pulang saja," kata Endang. Setelah administrasi selesai, Azhari kemudian dibawa keluarganya ke Blang Pidie dengan menggunakan mobil sewaan. Azhari sendiri merupakan pegawai honorere di Dinas Perhubungan Aceh Barat Daya. Dia tinggal di Calang, Aceh Jaya. Ganasnya gelombangan tsunami mengakibatkan Azhari kehilangan istrinya yang sedang hamil 7 bulan, ibu kandung, adik kandung, dan mertuanya. Setelah selamat dari amukan tsunami, Azhari kemudian berjalan kaki ke Banda Aceh dengan kondisi patah rusuk kanan dan pernafasan terganggu, bersama para pengungsi lain. Perjalanan Calang-Banda Aceh ditempuhnya selama 10 hari. Setelah di Banda Aceh, Azhari kemudian dibawa saudara-saudaranya yang ada di Banda Aceh ke Medan untuk menjalani perawatan. (asy/)


Berita Terkait