Ketika Mabuk Asmara Memicu Aksi Bak Teroris
Minggu, 16 Jan 2005 08:58 WIB
Jakarta - Tak ingin kekasihnya pulang kampung, Zulfa bertindak bak teroris. Polisi dan warga pun dibuat panik. Begitu ketahuan, Zulfa pun stres. Gejala apakah ini?Mungkin anekdot "Cinta ditolak dukun bertindak" menjadi kuno dengan adanya kejadian ini. Tapi kenapa aksi bak teroris yang menjadi pilihan Zulfa?Menurut kriminolog UI Adrianus Meliala menjelaskan, rasa takut yang berkembang di masyarakat yang dipicu dari ancaman bom tak jarang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu sebagian orang.SMS teror bom yang ditujukan Zulfa kepada Kedubes Thailand dan Inggris yang dilatarbelakangi motif asmara juga mungkin dapat dinilai demikian."Ancaman bom ini di masyarakat telah terlalu dianggap besar, sehingga isu yang belum jelaspun tentang ancaman bom dapat memicu kepanikan di masyarakat," katanya saat dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (16/1/2005).Dengan semakin seringnya terjadi ancaman semacam itu, lanjut dia, maka masyarakat sangat mungkin akan menganggap melakukan aksi peledakan bom mudah dan mungkin untuk mereka lakukan. Padahal tidak demikian."Untuk itu saya mengimbau masyarakat untuk tidak bersikap reaktif terhadap ancaman bom dan memandang segala sesuatunya secara proporsional. Bom memang berbahaya. Namun saya kira jika kita tidak berhati-hati di jalan raya pun, risiko kecelakaan tetap dapat mengancam keselamatan kita. Jadi waspada perlu, namun hendaknya jangan sampai berlebihanlah," tukas Andrianus.Teror bom di Kedubes Thailand dan Inggris itu merebak pada Kamis malam 13 Januari 2005. Polisi langsung memperketat pengamanan di dua tempat itu, bahkan Kedubes Inggris tutup.Informasi adanya teror diklaim diperoleh dari intelijen. Disebutkan, kedua tempat itu akan diledakkan dalam satu dua hari. Namun setelah dilakukan penyisiran, kedua tempat itu dinyatakan steril.Polisi pun mendapat informasi kalau teror bom disampaikan melalui SMS. Sumber SMS itu pun mulai ditelusuri. Nama Azahari dan Noordin Moh Top sempat disebut-sebut. Namun polisi gamang mengarahkan kasus tersebut kepada kedua buronan teroris itu.Akhirnya pada Jumat malam 14 Januari 2005, polisi mengumumkan sudah menangkap si pengirim SMS. Siapa sangka ternyata dia seorang perempuan muda berusia 22 tahun. Zulfa namanya. Tak ada itikad teroris, melainkan hanya karena tidak ingin pacarnya yang bekerja sebagai satpam di Kedubes Thailand tidak pulang kampung.Zulfa pun shock, niat isengnya berbuah ancaman dibui satu tahun penjara karena melanggar pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman. Zulfa pun dirawat di RS Mintoharjo. Saking stresnya Zulfa pun muntah darah.Apa boleh buat Zulfa, berlagak teroris ternyata membawa azab dan sengsara.
(sss/)











































