Indonesia Setengah Tiang di Groningen Kumpulkan Rp 41,6 Juta
Minggu, 16 Jan 2005 01:16 WIB
Jakarta - Meski di negeri orang, pelajar Indonesia di Groningen Belanda turut prihatin dengan para korban tsunami di Aceh. Mereka pun mengumpulkan sumbangan Rp 41,6 juta.Penggalangan dana kemanusiaan itu digelar melalui acara bertajuk "Indonesia Setengah Tiang: Semalam Untuk Aceh" oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPI-G) Belanda."Aksi ini merupakan reaksi anak bangsa yang tinggal di Groningen, Belanda, terhadap gempa dan tsunami 26 Desember yang lalu, guna sedikit turut meringankan penderitaan korban," sebut Febdian Rusydi, Ketua Badan Pengurus PPI-G dalam surat elektroniknya kepada detikcom, Minggu (16/1/2005).Acara digelar di pusat keramaian Kota Groningen, Grotemarkt dengan mendirikan posko informasi dan donasi pada 10-13 Januari 2005. Pada hari terakhir digelar happening art "Semalam untuk Aceh"."Dana yang terkumpul dari aksi selama empat hari tersebut mencapai EUR 3.470,88 (sekitar Rp 41.657.780). Dana ini akan disalurkan melalui Palang Merah Indonesia. Kami berharap dana ini dapat digunakan PMI untuk membeli obat-obatan untuk para pengungsi Aceh," sebut Febdian yang merangkap sebagai penanggung jawab aksi.Acara happening art dibuka oleh Walikota Groningen, Jacques Wallage. Dia menyampaikan pesan moral betapa derita Indonesia, khususnya rakyat Aceh begitu dekat di hati penduduk Groningen, karena banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Groningen.Turut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Mohammad Jusuf dan Presiden Universitas Groningen (RuG) Simon Kuipos. Jusuf memaparkan rakyat Aceh tidak hanya mengalami kerusakan fisik akibat musibah tsunami, tetapi juga berbagai macam penyakit yang timbul pasca-tsunami.Sedangkan Kuipos menyampaikan keprihatinan pada Universitas Syah Kuala (Unsyah) di Banda Aceh yang kehilangan ratusan dosen dan ribuan mahasiswa. Pihaknya berkomitmen untuk membantu pemulihan Unsyah.Aksi happening art tersebut menyedot perhatian publik karena bertepatan dengan jadwal belanja mingguan penduduk kota (koopavond) di Grotemarkt, yang berarti pasar besar.Mereka menikmati presentasi tentang sejarah Aceh, sajian musik dan puisi, serta persembahan Tari Saman oleh sejumlah mahasiwa Indonesia. Penonton juga menikmati sajian makanan khas Indonesia yang dibuat dan dijual oleh masyakarat Indonesia.PPI-G mendapat bantuan dari banyak pihak dalam aksi ini. Antara lain RuG, Gemeente (Pemerintah Daerah), beberapa perhimpunan mahasiswa lokal, dan masyarakat Indonesia."Sebagai kelanjutan dari aksi kemanusiaan ini, pada pertengahan Februari 2005 akan diselenggarakan seminar tentang gempa dan tsunami serta pemulihannya. Menurut rencana, acara tersebut akan diadakan bersama Program Master Humanitarian Assistance (Network on Humanitarian Assistance/NOHA) RuG," sebut Febdian.
(sss/)











































