"Lebih simpel saja, dan murah dibanding harus parkir di dalam," ujar seorang konsumen batu akik, Heri saat berbincang di lokasi, Selasa (4/11/2014).
Sudah seperti hubungan simbiosis mutualisme. Kehadiran parkir liar dan penggila batu akik sama-sama menguntungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heri mengaku dirinya tidak begitu rutin datang ke Pasar Rawa Bening. Terkadang dalam seminggu masih dapat dihitung jari.
"Lagi pula parkir di luar flat, mau berapa jam juga paling kena 2.000 perak, sementara kalau di dalam perjamnya 1.500," imbuhnya.
Sementara menurut Hedi, seorang pedagang kopi di pinggir ruas Jalan Raya Bekasi 1, jika hari biasa kondisi arus lalu lintas tidak begitu semerawut. Namun begitu hari libur jangan harap bisa lewat jalan tersebut.
"Kalau hari biasa paling malam itu jam 8-an, selebihnya sudah kosong. Tetapi kalau hari minggu itu jangan ditanya macetnya," tutur Hedi.
Sebenarnya lahan parkir di Pasar Rawa Bening cenderung luas. Pasar tersebut juga memiliki parkiran di basement. "Di dalam sebenarnya adalah lahan parkir, cuma ya begitu penggila batu lebih milih di pinggir jalan mau bagaimana lagi," tutupnya.
(edo/ndr)











































