Melongok Kerja Relawan Aceh

Melongok Kerja Relawan Aceh

- detikNews
Sabtu, 15 Jan 2005 06:03 WIB
Banda Aceh - Kerja para relawan yang bekerja melakukan evakuasi terhadap jenazah korban gempa dan gelombang tsunami perlu diacungi jempol. Mereka bahu membahu bersama prajurit TNI, Polri dan relawan asing mencari-cari jenazah di sungai, parit, tumpukan lumpur dan reruntuhan rumah serta kayu-kayu.Padahal relawan Indonesia hanya bermodal nekat, tanpa peralatan dan sarung tangan, serta tanpa memikirkan resiko bahaya terkena penyakit."Bagaimana ya mas, semuanya sudah merupakan tanggung jawab kita sebagai relawan. Apapun yang kita temukan di lapangan, seburuk apapun dan resiko apapun akan kita tanggung. Intinya, kita ihklas Lillahita'ala. Kita datang jauh-jauh ke sini untuk itu," jelas Taufik, relawan dari PMI Universitas Muhammadiyah Padang, Sumatera Barat yang ditemuai detikcom di Banda Aceh, saat mengikuti rombongan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu selama sepuluh hari di NAD.Ihklas, kata itu memang mudah diucapkan dan sulit untuk dilakukan, mungkin bagi sebagian dari kita semua. Tapi keihklasan para relawan itu tercermin dari kerja mereka siang dan malam dalam mencari jenazah yang masih ribuan jumlahnya itu terus dilakukan. Bahkan sudah minggu ke tiga ini, mereka terus melakukan pencarian, disamping tugas mereka memberikan bantuan logistik kepada para pengungsi.Taufik sendiri mengakui bahwa sisa-sisa jenazah masih banyak berserakan di sejumlah tempat di NAD, terutama di Banda Aceh. Kebanyakan jenazah itu kondisinya terjepit dalam reruntuhan gedung perkantoran, pertokoan, perumahan dan kayu-kayu."Yang kami bisa kita lakukan evakuasi hanya mayat-mayat yang tampak dipermukaan air sungai, parit dan kayu-kayu," jelas Taufik yang saat itu didampingi sekitar lima rekannya itu. Taufik mengaku setiap harinya bisa mengevakuasi puluhan bahkan ratusan jenazah. "Ya, tergantung kerajinan kita bekerja," tambahnya.Timnya yang berjumlah 13 orang dari Universitas Muhammadiyah Padang ini bergabung dengan PMI sejak dua pekan setelah dua hari gempa dan gelombang tsunami di wilayah Aceh. Deni, rekannya juga mengaku bisa mengevakuasi300-an jenazah dikawasan Darussalam dan Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.Menurut Deni, timnya melakukan pencarian jenazah di sejumlah gedung, rumah dan tumpukan kayu yang menggunung dibantu pasukan TNI dan Polri. Setelah menemukannya, mereka memasukan jenazah ke dalam kantung plastik, lalu mengikatnya dan disimpan dipinggir jalan. Setelah terkumpul, baru mereka mengangkutnya ke dalam truk milik TNI, Polri dan truk milik pemda.Baik Taufik maupun Deni mengaku kesulitan dalam evakuasi, yaitu minimnya perlengkapan yang dimiliki timnya, juga tim relawan lainnya. Dibandingkandengan relawan asing, yang notabene tentara asing lebih lengkap."Kesulitan kami tidak memiliki perlengkapan sarung tangan, baju, sepatu, masker dan peralatan properti seperti gergaji, tang untuk memotong kayu-kayu yang menghimpit jenazah," ujar Deni.Kesulitan lainnya, Taufik mengutarakan, soal lambanya gerak pengevakuasian, terutama melalui jalur darat. Contohnya, dalam pengiriman logistik kepada para pengungsi harus memutar lewat jalur laut. "Jadi kita memutar lebih jauh lagi," katanya. (mar/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads