Melindungi Anak-anak Aceh

Melindungi Anak-anak Aceh

- detikNews
Sabtu, 15 Jan 2005 05:22 WIB
Jakarta - Anak-anak korban bencana tsunami kini harus menanggung beban bencana yang melanda negara negara di Asia Tenggara ini. Ribuan orang tewas dan terluka, dan ribuan lainnya terpisah dari orang tua mereka. Mereka yang selamat harus tetap terlindungi.Di Indonesia, upaya identifikasi anak yatim telah dimulai, dan langkah ini merupakan tugas sulit arena tidak adanya catatan keluarga dan pemakaman korban tewas tanpa identifikasi.Dalam hari hari belakangan ini, berita tentang perdagangan anak membuat pemerintah membekukan keluarnya anak anak dari daerah bencana. Namun, telah ada adopsi tidak resmi oleh keluarga dan para tetangga yang semakin merumitkan situasi yang sudah sulit ini.Inilah cerita Iwa seorang anak laki laki berusia tujuh tahun. Ia mengatakan ia tengah mengerjakan pekerjaan rumah saat gempa terjadi. Ia meninggalkan rumah dengan ayahnya dan mencoba berlari dan saat mereka melihat ke belakang, neneknya masih berada di tempat tidur. Dan rumah mereka terguncang.Iwa kini tinggal di kamp pengungsi di stasiun televisi. Di sana juga terdapat ribuan pengungsi lain namun Iwa termasuk salah seorang yang beruntung. Ia masih memiliki orang tua. Banyak lainnya yang menjadi yatim piatu.Dan tugas badan PBB untuk anak anak, Unicef, mencoba untuk mencari sanak keluarga yang terpisah ini. "Kami memiliki data yang berisi informasi tentang anak anak dengan nomor pendaftaran dan nama, umur, sekolah dan nama ayah serta ibu," kata pejabat Unicef di Banda Aceh, Danny Poruba seperi yang dikutip BBC.Poruba mengatakan staf Unicef memeriksa informasi bila ada orang yang datang ke kamp untuk mencari anak mereka. "Namun kami berada di sini melindungi anak-anak dari mereka yang datang untuk mencoba mengambil mereka. Walaupun seseorang memiliki semua dokumen dan informasi yang diperlukan, kami masih harus mendapatkan persetujuan pemerintah," katanya.Anak anak lain ada yang dirawat di rumah sakit Fakina namun saat kami tiba, para dokter disana mengatakan mereka sudah pergi. "Ini ruang perawatan anak anak, namun sekarang kosong karena sebagian besar telah pergi," kata seorang dokter.Ada beberapa penyebab mengapa ruang perawatan itu kosong. Masih banyak anak yang dirawat di rumah sakit Banda Aceh. Sebagian mungkin telah diungsikan, sebagian lain dibawa sanak saudara atau para tetangga.Masalahnya adalah tidak ada yang benar benar tahu karena tidak ada pendaftaran pasien anak. Saat keluar rumah sakit, kami bertemu Sepal Bari. Istrinya masih hilang, namun bayi perempuan berusia dua bulan, yang dibawanya, selamat. "Sebagian orang ingin mengangkat anak saya, namun saya tolak," kata Bari melalui penterjemah.Saat ditanya apakah ia curiga kepada orang orang yang bertanya itu, Bari mengatakan: "Anda bisa liat disampingmu ada dua orang yang ingin mengadopsi anak saya." "Saya sudah tahu adanya perdagangan anak, jadi karena itu saya tidak mau menyerahkan anak saya kepada siapapun."Cerita ini menimbulkan keprihatinan petugas perlindungan anak dan juga Brigitta Len Hendrisson dari Unicef. Dan ia mengatakan masih ada kasus kasus lain. Salah satu kasus adalah pasangan yang membawa seorang anak keluar Aceh ke Medan. Saat tiba di sana, anak itu sakit sehingga mereka ke rumah sakit. Di sana, satu badan lembaga swadaya masyarakat ikut campur sebagai bagian dari proses registrasi menyangkut para korban tsunami dan mereka curiga karena pasangan itu tidak konsisten dengan ceritanya. Kasus lain adalah pria berusia 41 tahun yang datang ke rumah sakit di Medan dan menyelundupkan seorang anak laki laki yang merupakan korban tsunami Aceh. Ia diserahkan ke polisi untuk ditanyai dan ia mengaku sebagai tetangga anak itu. Bagaimana kelanjutan kasus ini, tidak diketahui."Kami khawatir tentang anak anak yang dibawa untuk tujuan perawatan tanpa pendataan yang layak sehingga tidak jelas kemana anak anak ini dibawa," kata Hendriksson.Saat ini hanya 40 persen anak yang terdaftar karena kartu kelurga sebagian besar hilang, dan akan sulit untuk mendata anak anak ini. Masalah ini harus segera diselesaikan karena adanya ancaman perdagangan anak. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads