Berkah Tsunami di Aceh
Jumat, 14 Jan 2005 22:24 WIB
Banda Aceh - Gempa dan gelombang tsunami yang melanda kawasan Banda Aceh 26 Desember 2004 lalu ternyata tak hanya membawa duka dan luka bagi warga di Banda Aceh. Karena banyak juga yang mendapat berkah dan rezeki dari peristiwa yang merengut puluhan ribu korban jiwa itu. Yang kebagian rezeki dari peristiwa ini adalah orang-orang dari wilayah tak terkena dampak tsunami. Seperti warga yang tinggal di kawasan Neusu, Lamlagang, Lambaro, Ulee Kareng dan juga kawasan di sekitar jalan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Rezeki-rezeki itu mengalir bak air bah dari pasang stunami. Bayangkan saja, untuk satu unit rumah kontrakan yang biasanya disewakan senilai Rp 10 juta pertahun meroket sampai Rp 45 juta sebulan. Para warga umumnya menyewakan rumah-rumah tersebut kepada para relawan asing dan juga jurnalis asing yang mencari tempat-tempat untuk untuk dijadikan kantor sementara. Sedangkan bagi penduduk lokal, meski harga sewa yang diberikan tidak berlipat ganda, tapi tetap saja terasa tidak wajar jika dibandingkan dengan harga-harga sebelum terjadinya gempa dan tsunami. Bisnis rental mobil adalah bisnis yang juga mendatangkan keuntungan berlipat saat-saat ini bagi para pemilik rental mobil yang selamat di Banda Aceh. Untuk harga normal, rental mobil satu hari untuk dalam kota dan sekitarnya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu. Tapi kini melonjak menjadi Rp 800 ribu sampai Rp 2 juta. Malah hari kedua setelah tsunami, jurnalis dan relawan yang ingin menyewa mobil dikenai harga sampai Rp 4 juta. Rental sepeda motor juga jadi naik daun. Jika dulu penyewaan sepeda motor berkisar Rp 50 ribu, kini untuk satu hari penyewaan bisa mencapai Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Tergantung negosiasi. Biasanya, harga lebih tinggi diberikan buat relawan dan juga jurnalis asing. Tak heran jika saat ini muncul istilah, harga tsunami. Maksudnya, harga yang dipatok setelah tsunami datang. Mahdi salah seorang tukang ojek yang kini membawa jurnalis asing saban harinya pada detikcom mengaku dibayar Rp 200 ribu perhari. Untuk bahan bakar dan kerusakan sepeda motor, dibebankan padanya. "Lumayanlah kak untuk situasi sekarang ini. Soalnya sekarang ini semuanya mahal," ujar Mahdi yang kehilangan hampir 50 orang kerabatnya. "Sebenarnya saya ini masih sedih. Tapi jika tidak bekerja, takut saya malah berpikir yang tidak-tidak," tuturnya. Sementara, harga-harga kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Akibatnya, penjual makanan juga menaikkan harga jualnya. Untuk satu bungkus nasi uduk pakai telur, pedagang menjualnya seharga Rp 5 ribu.
(mar/)











































