Setelah tak lagi menjabat sebagai menteri, Mari Elka Pangestu tetap aktif berkegiatan, antara lain dengan menjadi pembicara di Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat. Dalam seminar mengenai partisipasi perempuan dalam ekonomi itu, Mari satu forum dengan mantan first lady AS yang kini tengah digadang-gadang menjadi calon presiden, Hillary Clinton.
Kepada para audiens yang merupakan mahasiswa Georgetown University, Mari menyampaikan mengenai pengalaman Indonesia terkait isu peran perempuan dalam ekonomi. Seperti di negara lain, perempuan Indonesia menghadapi kendala lebih besar dibandingkan laki-laki. Sebagai contoh adalah keterbatasan akses terhadap modal.
“Perempuan cenderung kurang percaya diri bahkan untuk sekedar datang ke bank yang punya bangunan bagus. Selain itu, mereka juga takut tidak bisa mengembalikan karena mereka punya lebih banyak kendala dibanding laki-laki. Misalnya, kalau anggota keluarga ada yang sakit, perempuan lah yang harus merawat sehingga mereka terkendala dalam mengembalikan utang,” kata mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu, Kamis (30/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ibu saya bilang jangan ambil PhD, nanti kamu tidak bisa menikah,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.
Karena adanya kendala yang lebih besar, tak heran jika peran perempuan dalam ekonomi pun lebih kecil dibanding laki-laki. Misalnya, kebanyakan posisi penting di perusahaan lebih banyak diisi laki-laki. Selain itu, mayoritas usaha kecil menengah (UMKM) juga dimiliki oleh laki-laki, dan hanya 23 persen yang dijalankan oleh perempuan, itupun dengan skala usaha yang lebih kecil.
Meski demikian, Mari melihat telah terjadi banyak kemajuan. Misalnya, citra bahwa perempuan tidak perlu sukses telah semakin hilang. Saat ini perempuan justru berlomba-lomba untuk berhasil. Prestasi akademis mereka juga meningkat.
“Dulu perempuan nggak mau pintar karena takut nggak punya pacar. Sekarang tidak lagi,” kata Mari tertawa.
Selain itu, teknologi juga banyak membantu. Dengan teknologi, perempuan dapat bekerja dari rumah sembari tetap mengurus rumah tangga.
Ke depan, Mari berpendapat bahwa upaya untuk meningkatkan peran perempuan perlu terus digalakkan. Cara yang bisa dilakukan antara lain adalah mengadvokasi agar perempuan lebih percaya diri untuk berkiprah. Dalam hal ini, dibutuhkan role model berupa perempuan-perempuan sukses sebagai rujukan bagi kaum perempuan.
Untuk mengatasi kendala terbatasnya akses terhadap modal, perlu dilakukan financial literacy bagi perempuan. Bank-bank perlu diupayakan untuk menjangkau desa sehingga perempuan merasa lebih nyaman dan percaya diri untuk mencari pinjaman modal.
Selain itu, perlu juga adanya solusi dari aspek kebijakan. Misalnya, kebijakan dalam menilai kinerja karyawan perempuan yang sudah menikah perlu mempertimbangkan perannya dalam keluarga. Biasanya penilian kinerja erat kaitannya dengan seorang karyawan harus siap pergi ke luar kota atau luar negeri setiap saat demi tugas. Bagi perempuan yang sudah menikah, hal tersebut lebih tentunya sulit.
“Harus ada perubahan dalam hal kebijakan dan kultur, misalnya yang menyangkut akses terhadap pendidikan, akes terhadap modal, kesempatan kerja. Dan laki-laki harus memainkan peran dalam perubahan tersebut,” tandas Mari menegaskan pentingnya peran “pria-pria tercerahkan.”
Bertempat di Healy Hall, bangunan antik nan bersejarah yang didirikan pada abad 19, seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka peluncuran International Council on Women’s Business Leadership (ICWBL) milik Georgetown University. Hillary Clinton tampil sebagai pembicara kunci, sementara Mari bersama tiga orang lainnya, salah satunya Cherie Blair yang merupakan istri mantan PM Inggris Tony Blair, bertindak selaku pembicara panel. (mpr/mpr)











































