Taruna diterima di kantor Anies pagi tadi sekitar pukul 11.00 WIB. Ayahanda Khohir itu mengadu kepada Anies karena sekolahnya terkesan lepas tangan.
"Waktu itu anak saya lagi acara baris berbaris, upacara bendera. Tiang benderanya jatuh dan ujungnya kena ke kepala anak saya," kata Taruna saat ditemui di kantor Kemdikbud, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (30/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak saya tadinya tidak seperti ini," ucap Taruna sembari menahan emosinya.
Taruna mengatakan bahwa dia dan istrinya berjuang agar anaknya mendapat bantuan. Baik kepala sekolah dan guru juga saat itu membantu namun Taruna merasa bantuan itu ala kadarnya.
"Memang ada bantuan tapi enggak semua. Kami bertekad untuk menemui menteri pendidikan yang baru. Agar bagaimana ke depannya, anak kami supaya bisa melanjutkan pendidikan dan dihubungkan dengan pemerintah daerah," ucap Taruna.
"Waktu kejadian kepala sekolah dan guru mengikuti dan mengantarkan. Tapi setelah minta biaya Rp 32 juta, langsung mundur dan memberikan Rp 4 juta, sisanya kami yang menanggung semua, saya hampir gantung diri," sambung Taruna.
Taruna pun tak putus asa dan memperjuangkan nasib anaknya. Hingga kemudian dibawa ke Bupati yang langsung merespons dengan menegur Dinas Pendidikan setempat. Lalu, mereka pun menggalang dana se-Kabupaten selama seminggu dan mendapat Rp 42 juta.
"Tapi anak saya bagaimana sekarang. Kalau dihitung-hitung biaya yang kami keluarkan sudah mencapai Rp 250 juta," kata Taruna.
Anies merasa prihatin dengan kejadian yang menimpa Khohir dan siap membantu. Ke depan, Anies juga menilai mekanisme kejadian seperti ini harus diatur dengan cermat sehingga ada penyelesaian yang memuaskan bagi kedua belah pihak.
"Karena tidak ada mekanisme, sekarang siapa yang harus tanggung jawab, bagaimana pengaturan tanggung jawab itu dibuat, sehingga kita bisa menjamin ada musibah, maka pertanggungajwaban itu jelas. Memang secara administratif ada di kabupaten. Tapi anda lihat sendiri, mau lepas tangan saya? Beliau juga berencana menemui menteri sosial, tapi dari sisi kita problem seperti ini mungkin cuma bukan satu-satunya," kata Anies.
(dha/rmd)










































