Cerita Kolega tentang Menteri Yohana Yembise, Perempuan 'Pilihan' dari Papua

Cerita Kolega tentang Menteri Yohana Yembise, Perempuan 'Pilihan' dari Papua

- detikNews
Kamis, 30 Okt 2014 10:00 WIB
Cerita Kolega tentang Menteri Yohana Yembise, Perempuan Pilihan dari Papua
Yohana Yembise (Foto: Ayunda W Savitri/detikcom)
Jayapura - Kolega dan teman hampir tak percaya bahwa Yohana Susana Yembise bakal dipilih Jokowi menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kabinet Kerja. Sebab, selama ini, hanya pria yang mewakili Papua. Alhasil, Yohana menjadi perempuan pertama dari Papua yang menjadi menteri. Seperti apa sosoknya?

Yohana lahir di Nabire, 1 Oktober 1958. Perempuan bergelar profesor ini merupakan dosen Universitas Cenderawasih.

Tokoh Papua yang juga Ketua Sekolah Tinggi Theologia Fajar Timur Abepura, Jayapura, Pastor Neles Tebay mengatakan, terpilihnya Yohana Yembise merupakan penghargaan terhadap perempuan Papua secara keseluruhan sekaligus memberi harapan bahwa menjadi seorang menteri bukan hanya dominasi laki-laki, tetapi terbuka kesempatan bagi perempuan Papua yang memiliki kecerdasan dan profesional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemilihan perempuan Papua menjadi menteri merupakan bagian dari revolusi mental," kata Neles Tebay, kepada detikcom, Kamis (30/10/2014).

Menjadi perempuan Papua pertama yang menjadi menteri, kata Neles, merupakan tantangan besar bagi Yohana. Dia harus mampu mengemban tugas tersebut dengan baik. Jika gagal, maka akan menjadi catatan buruk bagi perempuan Papua lainnya.

"Akan ada penilaian tersendiri bagi perempuan Papua. Jika yang bergelar profesor saja tidak mampu apalagi perempuan yang pendidikannya di bawah dari doktor, tentu akan diragukan," kata Neles.

Kecerdasan Yohana sudah terlihat sejak kecil. Saat duduk di bangku SMA Nabire, dia lebih menonjol dibanding teman-teman sekelasnya. Tamat dari SMA, dia masuk ke FKIP universitas Cenderawasih jurusan Bahasa Inggris (1985). Kemudian dia mengambil Diploma TELF di Singapore Region English Language Centre (RELC) SEAMEO Singapore (1992), pendidikan S-2 Master of Art (MA) di Faculty of Education Simon Fraser University British Colombia, Kanada (1994), pendidikan S-3 Doctor of Philosophy (PhD) di The Australian School of Language and Media University of Newcastle, New South Wales (NWS) Austalia (2007).

"Terpilih jadi menteri itu mengangkat harkat dan martabat orang Papua. Apalagi dia perempuan," kata teman sekolah Yohana, Yagati Modouw.

Yagati yakin Yohana mampu memimpin Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sebab Yohana aktif di dunia internasional dan meraih berbagai penghargaan seperti dari Dubes Australia untuk Indonesia dalam kategori alumnus Australia yang menjadi profesor perempuan pertama dari Papua, Kartini Award oleh Intelektual Human Resources Development and Charisma Indonesia, Role Model Family 2014 of Internasional Human Resources Development Indonesia, Alumni Award University of New castle Australia untuk National Leadership dan berbagai penghargaan lainnya di bidang kerja sama Indonesia dan Kanada maupun Australia.

Dosen Universitas Cendrawasih, DR Agus Sumule, menyatakan hal serupa. Ia yakin Yohana bisa menjadi warna baru bagi pemerintahan Jokowi. Selama ini, Yohana mengorganisir anak muda Papua untuk berjejaring dengan universitas lain.

"Beliau terkenal sebagai dosen yang tegas dan disiplin," kata Agus Sumule.

Yohana pernah masuk ke dunia politik dengan mencalonkan diri menjadi bupati Biak Numfor untuk periode 2014-2019, tapi gagal. Nasib justru membawanya menjadi menteri. Minggu (26/10/2014, Jokowi menyebut namanya di urutan ke 30 sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

(try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads