Sekelumit Kisah Religi Pelayan Jamaah Haji

Laporan dari Arab Saudi

Sekelumit Kisah Religi Pelayan Jamaah Haji

- detikNews
Rabu, 29 Okt 2014 02:44 WIB
Sekelumit Kisah Religi Pelayan Jamaah Haji
Kasi Bimbingan Ibadah dan KBIH Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ‎Daerah Kerja Madinah ‎Ahmad Izzuddin Rosyidie (Elvan/detikcom)
Madinah - 168.800 Jamaah haji Indonesia memenuhi panggilan Ilahi di Tanah Suci pada musim haji tahun ini. Beragam kisah religi pun terlahir di tengah perjalanan suci para jamaah haji.

Kasi Bimbingan Ibadah dan KBIH Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ‎Daerah Kerja Madinah ‎Ahmad Izzuddin Rosyidie‎ punya segudang pengalaman tentang kisah religi jamaah haji. "Banyak kisah yang di luar nalar," kata pria kelahiran Kudus, 12 Mei 1972 ini.

Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyah Kemenag RI ini lantas memaparkan beberapa pengalamannya. Antara lain jamaah yang langsung ingin pulang ketika tiba di Tanah Suci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada yang pengen pulang, sudah jalan sampai 10 Km, katanya mau pulang ke rumah kyainya. Jadi dia masih merasa berada di kampung," kata Izzuddin.

Jamaah tersebut sulit dikendalikan dan tak bisa berbahasa dengan baik. Kebetulan Izzuddin berasal dari Kudus sehingga paham bahasa Jawa yang kemudian digunakan untuk komunikasi dengan jamaah tersebut.

"Dia itu seakan-akan di kampungnya sana. Kalau menangani begitu harus mengalir saja, saya terjun langsung. Ketika terjun itu pendekatannya harus mengalir ikuti dan iyakan saja mau ke mana. Akhirnya setelah saya bilang ayo saya antar ke kyai yang dia maksud ya mau naik mobil," terangnya.

"‎Jamaah yang begini harus diterangkan. Nanti malah takut malah stres dia. Jamaah yang saya temukan itu maunya ke pondok kiainya yaudah kita iyakan saja, tapi kita antar ke pemondokannya," imbuh Izzuddin.

Jamaah yang mengalami hal seperti ini jumlahnya tak sedikit. Menurut cerita sejumlah petugas haji, berapa jamaah bahkan ingin pulang ke rumah karena lupa belum memberi makan ternak dan mencangkul ladangnya, meski sudah di Tanah Suci masih teringat harta benda di kampungnya.

Kisah lain yang dialami Kasi Kesehatan PPIH Daker Madinah Tjetjep Ali Akbar, ada seorang jamaah laki-laki yang tengah sakit berteriak-teriak dan terus berontak tak mempan disuntik obat penenang. Setelah cincin dengan batu alam di jarinya dilepas, obat penenang pun bisa masuk, sang jamaah yang dimensia pun tidur lelap sebelum dievakuasi ke BPIH Daker Makkah pada masa sebelum puncak haji lalu.

Balai Pengobatan Haji Indonesia Daker Makkah memang punya ruangan khusus untuk menangani jamaah yang dimensia atau mengalami gangguan ingatan. Beberapa jamaah haji Dimensia dirawat di BPHI Makkah dan dibadalhajikan bila tidak memungkinkan menjalani wukuf di Arafah.

Tak hanya itu saja, ada juga cerita mengenai jamaah haji yang ingin loncat dari pesawat hanya beberapa saat setelah lepas landas dari embarkasi asalnya. Jamaah tersebut kemudian stabil setelah ditenangkan oleh petugas kloter tersebut.

Cerita itu ‎hanya sekelumit kisah religi yang dialami Pak Izzuddin dan petugas haji lainnya yang terus melayani para jamaah haji. "Kalau saya boleh katakan itu terkait amal ibadah masing-masing. Biasanya akan kembali sedia kala setelah pulang ke Tanah Air dan Allah memaafkan," jelas Izzuddin menutup perbincangan.

Saat ini mayoritas jamaah haji sudah pulang kembali ke Tanah Air. Semua jamaah sudah meninggalkan Makkah. Tinggal jamaah haji gelombang dua ‎yang masih menuntaskan salat arbain di Masjid Nabawi Madinah.

Puluhan jamaah yang sakit belum bisa dipulangkan. Saat ini jamaah yang sakit masih dirawat di sejumlah RS Arab Saudi. Semoga semua jamaah pulang dengan selamat dan kondisi sehat, kisah-kisah religi yang sempat terjadi biarlah menjadi kenangan religi di Tanah Suci bagi masing-masing jamaah haji. Semoga menjadi haji mabrur.

(van/vid)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads