"Saya tidak pernah bermimpi jadi menteri, saya hanya dosen di perguruan tinggi," kata Nasir dalam sambutannya saat sertijab menristek di Kantor BPPT, Thamrin, Jakpus, Selasa (28/10/2014).
Meski sebelumnya hanya menjadi dosen di Undip, dia mengatakan sering diminta bantuan di Jakarta. "Saat di Jakarta diminta bantuan di BUMN terkait revitalisasi bisnis kemudian di Kementerian Keuangan menanggapi terkait Peraturan Pemerintah tentang prosedur negara," jelasnya.
Nasir menjelaskan, dirinya merupakan orang yang berbasis di bidang akuntan. Aktif di Kampus Undip sebagai Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Saya sebelumnya jadi Dekan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip. Ada pemilihan rektor saya ikut, kemudian terpilih jadi rektor. Belum dilantik menjadi rektor sudah diminta Pak Presiden Jokowi jadi menteri. Jadi menteri ini saya nggak pernah bermimpi apa-apa," jelas pakar anggaran ini.
Ayah empat anak ini menuturkan, dengan terpilihnya sebagai menteri ia termasuk aliran golongan 'Mazhab Nasibdiah'. Hal itu lantaran ia menjadi menteri karena nasib.
"Jadi saya ikut aliran yang tergolong mahzab nasibdiah. Karena nasib, dan nasib itu nggak bisa diirikan, nggak bisa kita menolak, nggak bisa kita mencari, ini amanah untuk membimbing Kemenristek dan Dikti," terangnya.
(tfn/jor)











































