"Jaksa Agung ke depan paling tidak bisa mengGenjot kinerjanya. Kita mengetahui adanya klik-klik di kejaksaan itu, dan orang itu harus bisa membongkar klik-klik itu," kata Trimedya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/10/2014).
Dia menambahkan asal dalam penentuan calon jaksa agung ini agar Jokowi juga tidak ada dikotomi antara karir dan non karir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menegaskan kembali kalau Presiden Joko Widodo nanti yang punya hak prerogatif menentukan jaksa agung. Soal kemungkinan sosok calon jaksa agung dari partai, Trimedya tak mau berspekulasi.
"Enggak tahu. Tapi kan semuanya itu tergantung hak Pak Jokowi," katanya.
(hat/ndr)











































