Meski hanya 'seumur jagung' menjabat, Lukman dinilai berhasil membuat sejumlah terobosan. Antara lain berhasil melobi untuk menghemat biaya pemondokan haji di Makkah sebesar Rp 97 miliar dan di Madinah Rp 43 miliar untuk tahun anggaran 2015. Ia juga mampu mengakomodasi Muhammadiyah dalam sidang isbat penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal 1434 Hijriyah. Padahal sebelumnya ormas muslim tersebut tak pernah hadir di sidang isbat.
Lukman meneruskan jejak ayahnya, KH Saifuddin Zuhri, yang merupakan menteri agama pada tahun 1962-1968 di era Presiden Soekarno. Saat dipercaya sebagai menag, Saifuddin mempunyai satu keinginan yakni menjaga Indonesia sebagai bangsa religius dan rukun. Kini saat dipercaya menduduki jabatan Menag, Lukman -- sebagaimana tertulis dalam blognya -- pun bertekad menjaga 'warisan' sang ayah, meneruskan cita-cita KH Saifuddin tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria kelahiran 25 November 1962 merupakan lulusan Universitas Islam As-Syafi'iyah Jakarta. Ia memiliki karier yang panjang di legislatif. Lukman telah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat sejak 1997 dan juga pernah menjadi Ketua Fraksi PPP serta anggota Tim Kuasa Hukum DPR.
Lukman dikenal sebagai sosok yang tegas dan tak basa-basi dalam mengambil kebijakan. Dia juga menunjukkan dedikasinya memimpin Kemenag dan memilih mundur sebagai anggota DPR terpilih.
Dia juga merasa lebih greget di posisi Menag ketimbang menjadi Wakil Ketua MPR, jabatannya sebelum menjadi menteri. Menjadi Menag berarti berhubungan langsung dengan umat.
"Lebih greget di sini, lebih menantang di sini. Kalau di MPR itu kan lebih kepada wawasan bagaimana 4 pilar, bagaimana penyadaran lebih kepada aspek yang penyadaran wawasan tentang ke-Indonesia-an. Di Kemenag lebih praktis-aplikatif, seperti pendidikan madrasah, haji, lebih konkret menyentuh umat," kata Lukman kepada detikcom, akhir September lalu.
(erd/nrl)











































