Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebanyak 29 anggota Search And Rescue Daerah Istimewa Yogyakarta (SAR DIY) mengikuti Sertifikasi Vertical Rescue. Sertifikasi dilakukan di Gunung Api Purba Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Gunungkidul mulai hari ini, Sabtu (25/10/2014) hingga Selasa (28/10/2014).
"Berdata data yang tercatat di logsheet SAR DIY, mulai Januari hingga Oktober ini sedikitnya ada 8 kasus kecelakaan sumur dengan berbagai motif," kata Ketua Harian SAR DIY Ferry Ardiyanto kepada wartawan disela-sela kegiatan sertifikasi di Nglanggeran, Gunungkidul, Sabtu (25/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adanya sertifikasi ini merupakan upaya SAR DIY untuk meningkatkan kompetensi anggota dalam upaya pencarian dan pertolongan musibah atau kecelakaan di medan terjal," katanya.
Menurutnya medan terjal yang dimaksud bukan saja tebing atau jurang di gunung ataupun perbukitan tapi juga gedung bertingkat serta sumur.
"Kasus kecelakaan sumur tersebut di DIY sendiri justru paling banyak," kata Ferry.
Selama empat hari lanjut dia, para peserta akan mengikuti berbagai materi yang diberikan para instruktur dari Badan Vertical Rescue Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Materi diantaranya teknik riging dan anchoring untuk pembuatan lintasan hingga teknik evakuasi korban dari tebing ke tebing dengan menggunakan tripod.
Sementara itu Kepala Badan Vertical Rescue FPTI, Tedy Ixdiana menambahkan, sertifikasi Vertical Rescue menjadi penting karena bisa menjadi alat ukur bagi Tim SAR untuk melakukan upaya pencarian dan pertolongan di medan terjal.
"Pada kasus-kasus kecelakaan pesawat seperti Sukhoi beberapa waktu lalu misalnya, keampuan Vertical Rescue sangat dibutuhkan," ungkap Tedy.
Badan Vertical Rescue menargetkan, setiap anggota SAR yang mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikat memiliki kemampuan satu banding satu.
"Artinya, satu anggota SAR mampu mengevakuasi satu korban," pungkas Tedy.
(bgs/aan)











































