Tepat di belakang Toilet 5 Masjid Nabawi, kuliah subuh tersebut digelar. Tak ada karpet tebal, minuman, atau makanan ringan, namun para jamaah begitu antusias menyambut kuliah subuh singkat.
Ustadz Abdul Kholiq, Pembimbing Ibadah Haji PPIH Daker Madinah bertindak sebagai pemberi ceramah. Pak Kholiq mengawali kuliah subuh dengan memaparkan satu demi satu makna prosesi ibadah haji. Tak perlu pengeras suara, hanya bermodal suara agak keras, ratusan jamaah haji yang mengikuti kuliah subuh tampak serius mendengarkan pengajian ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pada hari berikutnya jamaah haji melempar ketiga jumroh, Ula, Wustho, dan Aqabah. Aktifitas melontar jumroh ini di tengah-tengah Mabit di Mina.
"Ula itu adalah melempar setan yang ada di diri kita adalah sifat firaun bengis kejam. Wustho itu adalah sifat angkuh yang berkaitan dengan qorun, harta. Punya harta boleh, tapi harta mengalahkan ibadah yang salah," kata ustadz Kholiq.
Setelah menyelesaikan lontar jumroh, jamaah haji menuju Masjidil Haram untuk tawaf Ifadah."Setelah menghilangkan setan kita taafur, lapor kepada Allah, gusti saya sudah menghilangkan sifat setan saya sekarang menghadapmu," jelas Kholiq.
"Lalu sekarang ke Madinah kita ziarah ke Makam Rasulullah, makna ziarah ke makam Rasulullah agar kita tahu bagaimana hebatnya Rasulullah dalam menyebarkan Islam," katanya.
"Fungsi ziarah kita berdoa kepada Allah, mencari jejak perjuangan Rasulullah, mudah-mudahan pulang sebagai pejuang, itulah mabrur," imbuh ustadz Kholiq.
Pak ustadz kemudian mulai mewanti-wanti jamaah haji agar mempertahankan kebiasaan baik di Tanah Suci. Menjaga salat lima waktu tepat pada waktunya.
"Yang biasa ke Masjid salat subuh jam 4 ya nanti di rumah ulangi jam 4, kalau dhuhur jam 11 sudah berangkat nanti di rumah jam 11 sudah berangkat," katanya.
Pembahasan pun sampai kepada kunci menjaga kemabruran. Agar semua ibadah yang sudah dilaksanakan di Tanah Suci senantiasa terjaga dalam kemabruran.
"Ada 3 kunci surga walaupun rahasianya di Allah. Pertama kita membuat perdamaian, makanya kalau ada yang masih tidak akur, ini termasuk tandanya tidak mabrur. Salamun, itu artinya damai, maka bagaimana damai antara satu dan yang lain tidak ada perbedaan hanya satu takwa," kata ustadz sembari mempersilakan jamaah haji bersalaman.
"Yang nomor dua memberikan makan, bisa sedekah bisa jariyah. Utamanya kepada fakir miskin dan yatim piatu. Rasanya sangat damai sering membantu orang. Yang ketiga yang agak sulit, ngomong yang baik. Jangan sampai menjelek-jelekkan aib temannya setelah sampai di Surabaya. Misalnya si A haji tamatuk, tangi mangun turu ngantuk. Jadi kejelekan kawan di sini jangan dibawa ke Tanah Air," ingat Kholiq.
Para jamaah kemudian dipimpin doa bersama. Semoga menjadi haji mabrur.
(van/aan)











































