Informasi yang didapat detikcom dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Jumat (24/10/2014), kesebelas ABK yang berusia antara 24-45 tahun tersebut terapung di perairan Trengganu dengan perahu karet. Saat ini mereka berada di rumah sakit setempat untuk pemeriksaan kesehatan.
Keseluruhan ABK itu dinyatakan dalam keadaan baik dan tidak mengalami cidera apapun. Para ABK itu juga memiliki dokumen lengkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mendapatkan informasi dari Kepolisian Trengganu, Dubes RI untuk Malaysia Herman Prayitno menugaskan Tim Satgas Perlindungan WNI agar berkoordinasi dengan aparat setempat untuk penanganan lebih lanjut. Tim Satgas Perlindungan hari ini akan menemui para korban dan membawa mereka ke Kuala Lumpur.
Herman Prayitno juga menugaskan Tim Satgas untuk berkoordinasi dengan instansi terkait di Indonesia guna melakukan pendalaman atas peristiwa perompakan tersebut.
Berdasarkan keterangan nakhoda kapal Van Swandi (32), dia dan 10 ABK lainnya menjadi korban perompakan di perairan Kalimantan Tengah, pada tanggal 9 Oktober 2014 dalam perjalanan dari Sampit ke Gresik. Menurutnya, kapal yang dinakhodai adalah kapal pengangkut CPO SPOB Srikandi 515 dengan muatan 3.100 ton CPO.
Kapal berangkat dari Sampit pada tanggal 8 Oktober 2014 namun dirompak di tengah perjalanan menuju Gresik. Selama 13 hari korban disekap di atas kapal dengan mata ditutup, sebelum akhirnya dihanyutkan dengan kapal karet berkapasitas 15 orang pada 22 Oktober 2014.
Berikut nama-nama ABK yang berhasil diselamatkan:
1. Van Swandi (32)
2. Simon Peter Kamasi (29)
3. Mapparenta (38)
4. Wahyudi (31)
5. Febrian Indo Albias (25)
6. Tri Endarjono (45)
7. Thohari (44)
8. Arkilaus (43)
9. Irwan Purwanto (32)
10. Taufik Surya Pharma (29)
11. Agung Ari Wibowo (29)
(jor/nrl)











































