Braak! Ini 3 Pemicu yang Bikin Ahok Ngamuk Gebrak Meja

Braak! Ini 3 Pemicu yang Bikin Ahok Ngamuk Gebrak Meja

- detikNews
Jumat, 24 Okt 2014 11:10 WIB
Braak! Ini 3 Pemicu yang Bikin Ahok Ngamuk Gebrak Meja
Jakarta - Melihat Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) naik pitam barangkali sudah biasa. Ia juga beberapa kali menggebrak meja menumpahkan kekesalannya. Namun, Ahok punya alasan penyebab emosinya membara.

Ayah tiga anak ini tidak segan menyemprot anak buahnya pun yang bekerja tidak sesuai konstitusi dan aturan yang berlaku. Ia juga mengkritik pedas tuntutan-tuntutan warga yang dinilainya tidak masuk akal.

Kebiasaan marah-marah dan gebrak meja Ahok menuai pro kontra. Ada yang mendukung, ada juga yang menyayangkan perilaku suami Veronika Tan ini. Meski gampang marah, Ahok mengaku dapat memanajemen emosinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut 3 pemicu yang bikin Ahok ngamuk gebrak meja:

1. Buruh Ngeyel

Plt Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) geram dengan perwakilan buruh yang tetap tidak terima penjelasannya tentang komponen hidup layak (KHL) di DKI Jakarta. Ahok pun menggebrak meja. Brak!

Ahok menerima perwakilan dari buruh dan elemen buruh yang berdemo di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2014). Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) itu menuntut Upah Minimum Provinsi Rp 3.050.000/bulan.

Pertemuan tertutup berlangsung di ruangan Ahok di lantai 2. Sekitar 25 Buruh ikut pertemuan tersebut.

Dalam rapat, suara Ahok terdengar meninggi tanpa emosi. Informasi dari salah satu yang hadir di ruang rapat, Ahok sempat menggebrak meja.

Hal ini karena terkait KHL. Beberapa buruh memperdebatkan perhitungan KHL di Jakarta lebih rendah dari Tangerang.

"Saya mau tanya lagi kenapa Anda mengatakan tool yang dipakai berbeda? Apakah orang saya disogok pengusaha sampai data BPS (Badan Pusat Statistik) berbeda? Saya ingin tahu secara ilmiah kenapa di Tangerang lebih mahal? Kalau tool beda, seperti tuduhan Saudara-saudara, tool yang mana?" kata Ahok yang suaranya terdengar sampai ke luar ruang rapat.

Demo buruh menuntut kenaikan UMP selalu berulang setiap bulan September-Oktober-November. UMP DKI Jakarta saat ini sekitar Rp 2,4 juta.

Ketika dikonfirmasi, Ahok menjelaskan saat itu ia memang sangat kesal dengan buruh. Namun ia mengatakan, yang ia lakukan bukannya menggebrak meja.

"Enggak, aku enggak gebrak meja. Itu botol. Kesal saja. Habis ngototnya itu plin-plan tau gak," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2014). Hal ini dikatakannya sambil memperagakan menggenggam botol di kedua tangannya lalu menghempaskannya ke bawah.

2. Anak Buah Pajaki Penyumbang Bus

Ahok 'mengamuk' menggebrak meja dan marah-marah karena tidak puas dengan kinerja anak buahnya.

Kejadian itu bermula saat seorang pengusaha Antonius Wenoe bersama Telkomsel dan Ti-phone serta lainnya menyerahkan bantuan 30 bus sedang kepada Pemprov DKI. Namun para pengusaha dipersulit.

"Kita ini sudah terkumpul 30 bus. Mau delivery, susahnya minta ampun. Ada yang mau komit dan kasih, karena bertele-tele, tidak jadi. Saya ini sudah setahun ke pemda untuk urusin bus ini. Kita frustasi, Pak. Bus itu mau diterima atau tidak. Kalau tidak mau diterima bus mau dijual lagi," kata Antonius di kantor Ahok, Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2014). Antonius tiba-tiba menggebrak meja. Brak!

Ahok yang melihat kejadian itu lantas mempertanyakan hal itu pada anak buahnya. Hadir dalam rapat tersebut antara lain Plt Sekda DKI Wiryatmoko, Kepala BPKD Endang Widjajanti, Kepala UP TransJakarta Pargaulan Butar Butar, dan Kepala Dinas Pelayanan Pajak DKI Iwan Setyawandi.

Ahok juga marah pada anak buahnya yang memberi pajak pada penyumbang bus yang akan mengiklankan produk mereka.

"Kita ini sudah mau disumbang bus masih mau dikenakan pajak coba. Lama-lama saya berpikir DKI ini memang suka beli bus sendiri. Biar bisa nyolong komisi, luar biasa memang pintar-pintarnya pegawai DKI ini. Lama-lama saya nanti jadi paranoid gara-gara dengan kalian yang suka main tender," kata Ahok dengan suara tinggi.

Ahok lantas melanjutkan ucapannya lagi.

"Kenapa mereka (pengusaha) yang kejar kita. Kita harusnya yang kejar-kejar mereka," kata Ahok yang mengenakan baju dinas DKI warna coklat muda ini.

Tidak lama kemudian Ahok menggebrak meja. Brak! Anak buah Ahok dan pengusaha terdiam. Suasana pertemuan itu menjadi sunyi. Hampir semua peserta pertemuan itu tertunduk.

"Gila ya mereka yang mau sumbang Hino, Anda persulit. Terus anda beli Wechai. Saya emosi ini, nanti kalau bus ini diterima dibilangnya karena wagub marah-marah," ucap Ahok.

Sebelum menghadiri pertemuan itu, Ahok juga sudah terlihat marah. Bahkan sebelumnya wartawan tidak diperbolehkan masuk oleh staf Pemprov.

"Ini biarkan saja wartawan masuk biar mereka mengerti. Aku ini sudah benci caranya begini. Orang sudah nyumbang bus masih disuruh bayar pajak. Sekarang saya tanya berapa coba bayar pajak yang pasang iklan di bus Mayasari itu semuanya?" tutur Ahok.

3. Laporan 'Siluman'

Ahok menggelar rapat dengan Dinas Kebersihan DKI dan Perusahan terkait kebersihan Jakarta. Ahok marah karena Dinas Kebersihan memberikan laporan yang tidak jelas.

Rapat kali ini membahas evaluasi kontrak Dinas Kebersihan dan usulan kontrak berbasis kinerja yang digelar di ruang rapat wagub, Kamis (8/5/2014). Rapat dihadiri oleh Kepala Dinas Kebersihan DKI Sapta Tri Ediningtyas, pegawai Dinas Kebersihan dan sejumlah perusahaan yang bekerjasama dengan Pemprov di bidang kebersihan.

Awalnya rapat berjalannya normal, Ahok meminta laporan jumlah pegawai lepas atau honorer di Dinas Kebersihan. Kemudian Kadis Kebersihan memberikan data yang ditulis tangan dan terdapat coretan-coretan ke Ahok. Data itu menyebutkan ada 10.721 pegawai honorer.

Ahok kaget melihat jumlah tersebut. Sebab jumlah itu jauh berbeda dari data awal yang hanya berjumlah 2.700 nama.

"Ini benar? Ini penunjukan langsung? Sekarang saya minta disebutkan dia (petugas kebersihan) ngumpulin sampah di jalan mana tolong bantu saya cara bagaimana pembagian mereka kerja, jam berapa dan di jalan mana," kata Ahok dengan suara tinggi.

Ahok lantas bertanya apakah jumlah pegawai honorer 10.271 orang itu cukup untuk mengurus sampah DKI. Lalu dijawab oleh Kadis Kebersihan, "Kalau tahun ini cukup," jawab Sapta dengan suara pelan.

Ahok masih tidak percaya dengan jumlah tersebut. Menurutnya data itu banyak nama 'siluman'. Jumlah itu di luar dari pegawai PNS Dinas Kebersihan yang dimiliki Pemprov DKI.

"10.271 Itu sudah cukup artinya tidak akan nambah, itupun saya pikir banyak data siluman. 10.271 orang ini di luar PNS kan, harusnya tanpa Bapak Ibu (pihak perusahaan) sampah bisa bersih kan. Makanya saya minta 2 minggu lagi petugas ini bekerja di mana saja kok banyak sekali," kata Ahok heran.

Ahok menegaskan kembali apakah jumlah 10 ribu lebih itu cukup. Jika tidak maka Ahok bersedia menambah dengan catatan semua data yang diberikan benar. Jika tidak maka Ahok akan mengambil tindakan tegas.

"Kalau Ibu tidak cukup kasih tahu saya, mumpung saya masih baik hari ini. Saya sudah muak loh begini, kalau semua dihitung ini kelebihan orang berarti Bapak Ibu memanipulasi data. Saya akan penjarakan. Saya nggak peduli," kata Ahok lagi-lagi dengan nada tinggi.

Ahok mencecar lagi soal jumlah pegawai honorer yang melambung tinggi itu. "Ini benar enggak datanya, kalau eggak saya akan penjara" kata Ahok tegas.

Melihat Ahok yang marah-marah, salah satu pegawai Dinas Kebersihan buka suara. Dia menjelaskan jumlah tersebut bisa tinggi hingga mencapai 10 ribu orang.
Halaman 2 dari 4
(aan/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads