"Bukan hanya di Medan, tetapi di Kalimantan hingga Aceh sendiri masih banyak daerah-daerah perbatasan yang bisa menjadi pintu masu," ujar Kepala BNN Irjen Anang Iskandar dalam pengungkapan 6 Kg Sabu asal Malaysia, di Medan, Sumatera Utara, Kamis (23/10/2014).
Menurutnya jaringan tersebut tidak dapat terdeteksi oleh petugas. Lantaran masuk ke Indonesia tidak melalui pelabuhan resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada petugas sendiri Tohar Cs menyatakan sabu asal Malaysia itu hendak diedarkan ke Aceh. Kasus ini pun terungkap pun berkat informasi masyarakat.
"Untuk mengantisipasi hal itu kita selalu bekerja sama dengan negara-negara tetangga dengan bertukar informasi, hal ini untuk melakukan pencegahan," kata Anang.
Sementara Kabag Humas BNN, Kombes Sumirat Dwiyanto mengatakan lemahnya pengawasan tersebut dilatarbelakangi kebijakan lemah, sehingga menjadikan celah.
"Contoh kasus di Entikong mereka selalu melakukan pengawasan ketat oleh kawan-kawan bea cukai, hingga Polrestabes meski begitu begitu patroli mulai kendur, sindikat-sindikat itu mulai beraksi," kata Sumirat.
Sumirat menjelaskan kasus transaksi di tengah laut belakangan ini menjadi tren. Berbagai macam modus selalu digunakan oleh sindikat tersebut.
"Seperti kasus di Sukabumi, mereka menggunakan senter untuk menandakan kapal Malaysia, terkadang ada juga penyelundupan yang bermoduskan kayu gelongan yang sengaja dibiarkan di tengah laut padahal di dalamnya terdapat sabu puluhan kilogram yang nantinya sabu itu akan diambil oleh kapal dari Indonesia begitu tertangkap nanti modusnya akan berubah lagi," ungkap Sumirat.
(edo/fjr)











































