Kapolres Sukoharjo, AKBP Andy Rifai, mengatakan, enam orang tersebut diperiksa setelah polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dalam olah TKP itu ditemukan sebuah surat tulisan tangan setebal 4 halaman yang ditulis sendiri oleh Sapta Dandaka beberapa saat sebelum mengakhiri hidupnya.
"Sebanyak enam orang yang semuanya disebut di dalam surat sudah kita periksa, kita mintai keterangan. Tetapi memang hingga saat ini kami belum bisa mengambil kesimpulan motif dari kejadian tersebut. Sampai saat ini dugaan sementara masih sama dan belum ada perkembangan," ungkap Andy, Rabu (22/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil autopsi memperlihatkan pada jenazah Titik terdapat bekas cekikan dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan saluran pernapasan tersumbat serta terjadi pendarahan otak. Pada jenazah Dwi terdapat luka bekas jeratan di lehernya. Sedangkan pada jenazah Sapta tidak ada tanda-tanda kekerasan sebelum kematiannya. Diduga Sapta terlebih dulu membunuh istri dan anaknya itu sebelum dia gantung diri.
Kenekatan Sapta itu membuahkan tanda tanya besar. Keluarga Sapta diketahui keluarga mapan dan tak sedang bermasalah. Sapta juga telah terpilih sebagai kepala desa selama dua periode dan bahkan dipercaya menjadi koordinator kepala desa di Kecamatan Bendosari.
Camat Bendosari, Sumarno, mengaku selama dia Sapta tidak pernah mengeluhkan problem pribadinya. Selain itu dia juga tak terlihat sedang bermasalah dengan urusan keuangan keluarga. Lelaki 49 tahun itu juga dikenal baik dan telah terpilih sebagai kepala desa selama dua periode, sedangkan istrinya adalah PNS yang bertugas di SMAN 3 Sukoharjo.
Yang cukup menarik adalah sebelum mengakhiri hidupnya Sapta semoat menulis 'surat pamitan' untuk anak sulungnya yang kuliah di Solo. Surat setebal empat lembar ditemukan tak jauh dari lokasi Sapta Dandaka gantung diri. Surat dibuat dengan tulisan tangan berbahasa Jawa.
Selain berpamitan, dalam surat itu Sapta berpesan kepada anaknya agar anak sulungnya itu bersabar dan menjadi anak sholehah. Dituliskan juga bahwa Sapta menanggung hutang dan tanggungan yang harus dipenuhi ke beberapa pihak yang jumlah totalnya mencapai Rp 94,9 juta.
Meskipun telah dipastikan bahwa surat itu memang tulisan tangan Sapta, namun keberadaan surat itu justru menimbulkan pernyataan besar. Sulit dipercaya jika Sapta mengakhiri hidup bersama istri dan anaknya hanya karena utang dengan jumlah itu. Sapta memiliki rumah yang yang cukup bagus, mobil yang relatif baru, dan istrinya seorang PNS yang punya penghasilan tetap dan memadai.
(mbr/try)










































