Camat Curiga Lurah Bunuh Diri Sekeluarga: Dia Baik, Tak Pernah Mengeluh

Camat Curiga Lurah Bunuh Diri Sekeluarga: Dia Baik, Tak Pernah Mengeluh

- detikNews
Selasa, 21 Okt 2014 15:39 WIB
Jakarta - Kematian sekeluarga Kepala Desa Puhgogor, Bendosari, Sukoharjo, menyisakan sejumlah pertanyaan. Keluarga Sapta Dandaka (sebelumnya ditulis Sapta Ganda) diketahui keluarga mapan dan tak sedang bermasalah. Sapta juga telah terpilih sebagai kepala desa selama dua periode.

Camat Bendosari, Sumarno, mengaku selama dia Sapta tidak pernah mengeluhkan problem pribadinya. Selain itu dia juga tak terlihat sedang bermasalah dengan urusan keuangan keluarga. Lelaki 49 tahun itu juga dikenal baik dan telah terpilih sebagai kepala desa selama dua periode.

"Bu Titik Suryani, (istrinya Sapta -red) juga seorang PNS yang bertugas sebagai guru di SMAN 3 Sukoharjo. Tapi memang saya sendiri juga kurang bisa memastikan problem internal di dalam rumah tangganya, tapi selama ini rukun-rukun saja kok," ujar Sumarno, Selasa (21/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sapta bersama istri dan seorang anaknya ditemukan tewas di dalam rumahnya di Puhgogor, Sukoharjo. Diduga Sapta melakukan bunuh diri dengan menggantung diri setelah menghabisi nyawa istri Titik Suryani dan anak bungsunya, Dwi Putra Pangestu.

Namun demikian Sumarno membenarkan telah ditemukan 'surat pamitan' dari Sapta untuk anak sulungnya yang kuliah di Solo. Surat setebal empat lembar ditemukan tak jauh dari lokasi Sapta Dandaka gantung diri. Surat dibuat dengan tulisan tangan berbahasa Jawa.

Selain berpamitan, dalam surat itu Sapta berpesan kepada anaknya agar anak sulungnya itu bersabar dan menjadi anak sholehah. Dituliskan juga bahwa Sapta menanggung utang ke beberapa pihak. "Di surat itu dituliskan juga bahwa dia (Sapta) gelap pikiran karena sedang 'mendem kahanan' (sangat kalut)," ujar Sumarno.

(mbr/try)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini