"Saya ingin mengajak Bapak, Ibu, Saudara semuanya, baik PKL, ada PKL di sini? Baik sopir bus mini... Kok bus mini..Metro Mini! Baik tukang kayu, ada tukang kayu di sini? Baik sopir angkot, baik dokter, sopir, becak, perawat, bidan, guru, TNI, Polri, dan tentu saja jangan lupa seluruh relawan yang sudah hadir," kata Jokowi dalam pidatonya di Monas, Jakarta Pusat, Senin (20/10) kemarin.
"Ada yang belum disebut? Petani, nelayan, wartawan. Apa? Pemain sepakbola, olahragawan, penyanyi, pemusik, politisi lupa... Dan semua profesi, mahasiswa, pelajar, dan semua profesi yang ada di negara kita ini," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut catatan sejarah, hal ini terjadi pada 28 Desember 1949. Soekarno kembali menginjakan kaki di bumi Jakarta setelah 'mengungsi' selama 4 tahun di Yogyakarta.
Di istana gubernur jenderal Belanda (kini Istana Negara), Soekarno menyampaikan pidatonya di hadapan ribuan orang setelah Kerajaan Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia Serikat. Soekarno membuka pidatonya dengan beberapa penggal kalimat pembuka lalu menyapa rakyat berdasarkan profesi.
"Kepada pegawai, kepada saudara-saudara marhaen, saudara-saudaraku tukang becak, saudara-saudaraku tukang sayur, saudara-saudaraku pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang terkecuali semuanya saudara-saudara, sampaikan salamku kepada saudara-saudaraku sekalian," ucap Soekarno saat itu.
Selain menyapa rakyat melalui profesi seolah-olah hendak menunjukkan komunikasi langsung, pidato Soekarno saat itu cukup singkat walau tidak diketahui berapa lama. Tapi pidato Jokowi di Monas tak sampai 15 menit.
(vid/ndr)











































