"Berdasarkan informasi dan bukti berupa cap tanda masuk dan keluar keimigrasian, kami telah memerintahkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta untuk melakukan investigasi dan pemeriksaan lebih lanjut tentang kebenaran informasi tersebut," ujar Kepala Bagian Humas dan TU Dirjen Imigrasi, Heryanto, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (20/10/2014) malam.
Lebih lanjut, dari laporan investigasi sementara pihaknya telah memperoleh profil petugas imigrasi yang memeras Carlos dan rombongan di Bandara Soetta. Heryanto mengatakan, pihaknya tengah melakukan pemeriksaan secara intensif untuk pembuktian yang maksimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar informasi, Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB.
Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam. Setelah menanyakan kelengkapan dokumen Carlos dan rombongan, petugas menegaskan pihaknya boleh masuk ke Indonesia apabila membayar sejumlah uang.
"Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48," rinci Carlos.
"Petugas mengambil uang Euro 30 (sisa di dompet Carlos) itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya," demikian lanjutnya.
Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di media sosial Spanyol.
(aws/vid)











































