Ini Beda Pidato Pertama Jokowi, SBY dan Soeharto

Ini Beda Pidato Pertama Jokowi, SBY dan Soeharto

- detikNews
Senin, 20 Okt 2014 19:26 WIB
Ini Beda Pidato Pertama Jokowi, SBY dan Soeharto
Jakarta - Setelah dilantik dan diambil sumpahnya, Presiden Indonesia menyampaikan pidato kenegaraan untuk pertama kali. Hari ini Senin (20/10), usai dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memberikan pidato kenegaraanya.

Salah satu poin pidato yang disampaikan selama 10 menit, yakni dari pukul 10.40 sampai 10.50 WIB, Jokowi mengajak semua elemen untuk bekerja, bekerja dan terus bekerja. Menurut Presiden, Negara ini akan semakin kuat dan berwibawa jika semua lembaga bekerja memanggul mandat yang telah diberikan oleh Konstitusi.

"Kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang bakso, pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI, pengusaha dan kalangan profesional, saya menyerukan untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong. Inilah, momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama untuk bekerja…bekerja… dan bekerja," kata Jokowi dalam pidatonya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima tahun lalu tepatnya 20 Oktober2009 usai dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan pidato kenegaraan.

Dalam pidato perdana itu, Yudhoyono mengajak masyarakat menggapai cita-cita menjadi bangsa yang kuat. Dia pun menyebut ada tiga kunci untuk menggapai cita-cita tersebut. "Pertama, jangan pernah kita menyerah dan patah semangat," kata SBY dalam pidatonya.

SBY berpesan bahwa pencapaian-pencapaian bangsa hanya bisa dicapai dengan keuletan dan semangat tanpa kenal menyerah. Dengan semangat itu, SBY optimistis dapat menegakkan good governance dan membasmi korupsi serta mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Kunci sukses kedua, menurut SBY, adalah menjaga persatuan dan kebersamaan. Pandangan politik boleh berbeda, tetapi semua pihak harus kompak untuk mencari solusi permasalahan bangsa bersama-sama.

"Dalam demokrasi, kita bisa berbeda pendapat, namun tidak berarti harus terpecah belah. Dalam demokrasi yang sehat, ada masanya kita berdebat, ada masanya kita merapatkan barisan," ujar SBY.

Kunci sukses yang ketiga, SBY berpesan agar rakyat menjaga jati diri Indonesia. Menurut SBY, ke-Indonesiaan tercermin dalam sikap pluralisme atau ke-bhinneka-an, kekeluargaan, kesantunan, toleransi, sikap moderat, keterbukaan, dan rasa kemanusiaan.

Beda lagi dengan Soeharto saat menyampaikan pidato usai dilantik menjadi Presiden untuk ketiga kalinya pada 11 Maret 1983 oleh sidang MPR. Dalam pidatonya Presiden kedua Indonesia itu menekankan agar perpecahan akibat perbedaan pembahasan soal Pancasila dihentikan.

Pancasila menurut Soeharto adalah satu-satunya asas politik. Sehingga generasi penerus tidak perlu dibebani lagi dengan sisa-sisa dari pertentangan, kecurigaan dan perpecahan di masa lampau soal pembahasan Pancasila.

"Cukuplah ini menjadi bagian dari masa lampau, menjadi bagian dari pengalaman Generasi '45, yang tidak akan diwariskan kepada Generasi Penerus!" sambung tokoh yang disebut sebagai The Smiling General ini.

Di sisi lain, Soeharto menekankan pembinaan generasi muda agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak muda harus bisa bebas mengeluarkan pemikiran dan membuktikan kesetiaan pada Pancasila.

"Generasi Penerus inilah pemilik masa depan, pelaksana penerus pembangunan masyarakat modern berdasarkan Pancasila, setelah landasannya dapat kita ciptakan dengan mantap," ungkapnya.

(erd/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads