Dalam kunjungan sehari di Jakarta, Kerry akan menghadiri pelantikan Jokowi-JK yang akan digelar pagi ini. Namun selain itu, Kerry juga dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Jokowi, juga dengan Perdana Menteri Malaysia dan Singapura, lalu Sultan Brunei, Perdana Menteri Australia dan Menteri Luar Negeri Filipina.
Demikian disampaikan oleh pejabat senior Departemen Luar Negeri AS kepada wartawan dalam penerbangan Kerry ke Jakarta, seperti dilansir Reuters, Senin (20/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun isu prioritasnya, lanjut pejabat senior tersebut, ialah mencari lebih banyak bantuan dan dukungan dalam melawan ISIS di Suriah dan Irak.
Pembahasan antara kepala negara dan pejabat penting tersebut antara lain akan menyinggung upaya penangkalan rekrutmen anggota ISIS dari negara-negara Asia Tenggara, mencegah kembalinya pelaku jihad garis keras di wilayah tersebut, serta memblokir pendanaan bagi militan keji tersebut.
"Menlu akan berbicara lewat wilayah yang kami yakini dan kami harap masing-masing negara bisa berbuat lebih banyak," ucap pejabat senior tersebut.
Pasca tragedi 11 September 2001 dan tragedi bom Bali beberapa tahun setelah itu, sejumlah orang diketahui telah pergi meninggalkan Indonesia dan juga Malaysia untuk bergabung dengan ISIS di Timur Tengah.
Pejabat AS lainnya menyebut, Menlu Kerry juga akan mendorong Jokowi untuk berbuat lebih banyak dalam membekukan aset militan ISIS, sesuai dengan persyaratan PBB dalam Financial Action Task Force.
"Mereka telah mengalami kemajuan dalam hal itu. Harapannya ialah mereka akan berbuat lebih dan menjadi bagian upaya yang terus berlangsung ... untuk mendorong Indonesia melakukan hal yang mereka mampu untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah PBB," sebut pejabat yang menolak disebut namanya.
Masih menurut pejabat tersebut, Menlu Kerry juga akan mendorong Jokowi untuk mempertahankan peran aktif dalam kebijakan luar negeri seperti yang telah dilakukan pemerintahan sebelumnya.
"Sebagai negara terbesar keempat di dunia, kemudian negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara mayoritas muslim terbesar dunia, perannya (Indonesia) sangat amat penting," ucap pejabat senior AS tersebut.
"Apa yang kami lihat di kawasan tersebut ialah seruan bagi Indonesia untuk tetap aktif dalam urusan luar negeri. Dia (Jokowi-red) bisa melakukan banyak kebijakan domestik dan tetap menjaga Indonesia aktif di kawasan tersebut," tandasnya.
(nvc/ita)











































