Kejutan-kejutan dalam Penyidikan Kasus Adiguna

Kejutan-kejutan dalam Penyidikan Kasus Adiguna

- detikNews
Kamis, 13 Jan 2005 10:35 WIB
Jakarta - Sudah 12 hari kasus penembakan terhadap Yohannes B Chaerudy Natong alias Rudy dengan tersangka Adiguna Sutowo diproses polisi. Selama penyidikan itu, ada sejumlah kejutan yang membuat publik bertanya-tanya. Sejak awal, kejutan memang sudah terjadi dalam kasus ini. Di hari pertama pembunuhan terhadap Rudy di Fluid Club, Hotel Hilton itu, Sabtu (1/1/2005), polisi tampak melempar tanggung jawab. Para pejabat Polri diam seribu bahasa, tidak ada yang mau memberikan keterangan. Hari kedua, baru ada pernyataan Polri, meski tidak detil. Nah, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merespons soal kasus ini, baru polisi membukanya. Meski begitu, Polri membantah lamban menangani kasus ini. Polri juga membantah menutup-nutupi kasus ini. Adiguna Sutowo telah ditahan Polda Metro Jaya sejak Minggu (2/1/2005). Namun, Adiguna membantah melakukan penembakan. Padahal, hampir seluruh saksi yang diperiksa Polda Metro Jaya, mengaku melihat anak bungsu Ibnu Sutowo itulah sebagai pelaku penembakan. Setelah itu, perkembangan penyidikan juga memunculkan kejutan-kejutan. Hasil tes Labfor Mabes Polri terhadap bercak darah di baju dan handuk Adiguna ternyata bukan darah korban Rudy. Tapi, darah si Adiguna sendiri, yang mengalami mimisan. Hasil tes ini sempat membuat pengacara Rudy, Ardy Mbalembout, sempat meminta bercak darah itu diuji ulang oleh tim independen. Polisi juga mengalami kesulitan menemukan pistol. Namun, tiba-tiba seorang saksi bernama Wewen menyerahkan pistol yang diduga digunakan Adiguna Sutowo untuk menghabisi nyawa Rudy. Tapi, cerita bagaimana Wewen bisa sampai memberikan pistol itu kepada polisi masih misterius. Alasan yang mengemuka, menurut polisi, Wewen merasa ketakutan dan dengan sadar menyerahkan pistol itu.Siapa sebenarnya Wewen, juga masih dirahasiakan polisi. Media massa menyebut Wewen adalah disc jockey di Fluid Club itu, tapi menurut polisi, Wewen adalah pengunjung. Saat kejadian penembakan, Wewen datang ke tempat itu dan berdiri di samping Adiguna. Oleh Adiguna, pistol itu kemudian tiba-tiba diberikan kepada Wewen. Wewen menerima pistol itu dan langsung pergi. Cerita ini sebetulnya, masih banyak memiliki tanda tanya. Kejutan lain, juga terjadi pada Tinul, saksi utama penembakan. Keterangan Tinul, perempuan yang memiliki jabatan penting di Hotel Mulia, berbeda-beda. Pada awal kesaksiannya, Tinul mengaku tidak berada di Fluid Club, tapi bersama Adiguna bersama di Lounge Bar Hilton. Tapi, kesaksian Tinul dimentahkan oleh saksi-saksi lain. Para saksi Tinul bersama Adiguna berada di Fluid Club saat kejadian penembakan itu. Tinul pun dijadikan tersangka karena memberikan keterangan palsu. Tapi, sehari setelah dijadikan tersangka, menurut Kepala Badan Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Tjiptono, Tinul mengaku bahwa yang melakukan penembakan adalah Adiguna Sutowo. Tinul pun mengaku berada di Fluid Club bersama Adiguna Sutowo. Tapi, pengakuan Tinul itu juga hanya bertahan satu hari. Rabu (12/1/2005) kemarin, lewat kuasa hukumnya Djufri Taufik, Tinul meralat tiga hal atas kesaksiannya di BAP (berita acara pemeriksaan). Salah satunya, Tinul mengaku hanya mendengar suara letusan senjata api. Tapi, Tinul tidak melihat siapa pelaku penembakan. Mengapa kesaksian Tinul berubah-ubah? Penyidikan masih terus berlangsung. Target Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Firman Gani, kasus ini akan dilimpahkan setelah disidik antara satu hingga dua bulan. Apakah akan ada kejutan-kejutan lainnya? Kita tunggu saja. (asy/)


Berita Terkait