Indun Gandasari (30) menangis melihat si jago merah terus melahap tempat tinggalnya hanya dalam waktu beberapa menit. Ia mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 15.30 WIB saat ia sedang memasak di dapur.
Sebelum kebakaran terjadi, anak-anak Indun sedang menonton televisi sedangkan ia memasak. Namun tiba-tiba listrik padam. Beberapa saat kemudian tetangga Indun berteriak histeris melihat api di atap rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun berusaha memanjat genteng dibantu warga untuk memadamkan api, namun ternyata api merambat cepat dan melahap atap rumahnya. Beberapa menit kemudian api justru menjalar ke rumah-rumah lainnya.
"Sudah berusaha dipadamkan tapi cepat sekali membesar. Selain rumah saya ada rumah Pak Kasmidi, Bu Konirah, Pak Slamet, Pak Agus Toni, Jaini," ujarnya sambil menyeka air mata.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran yanng menerima laporan peristiwa itu langsung menuju ke lokasi. Namun untuk menuju Kampung Gandekan RT 7 RW 7 itu harus melewati Jalan MT Haryono yang padat saat sore hari.
"Kesulitannya di Jalan MT Haryono padat karena pas jam sibuk. Kebetulan juga pas pergantian shift," kata kepala Bidang Operasional dan Pengendalian Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sumarsono.
Selain itu mobil pemadam kebakaran ternyata tidak bisa masuk ke perkampungan karena jalan yang sempit. Dibantu warga, selang pun ditarik hingga lokasi kebakaran. Beruntung tidak ada korban jiwa namun kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
"Kami menghimbau saat musim kemarau ini agar lebih berhati-hati termasuk ketika listrik mati," tegas Sumarsono.
Hingga kini proses pemadaman masih berlangsung, warga dan petugas pemadam kebakaran juga mengevakuasi barang-barang mudah terbakar seperti perabotan dan tabung gas elpiji.
(alg/gah)











































