Koordinasi Buruk Hambat Kerja Relawan Medis
Kamis, 13 Jan 2005 01:00 WIB
Medan - Koordinasi yang tidak padu antarinstansi dan lembaga di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut), mengakibatkan sejumlah relawan asing termasuk medis masih banyak yang belum bisa melaksanakan tugasnya. “Karena kurangnya koordinasi, relawan kita banyak yang terkendala, atau belum bisa melaksanakan tugasnya. Padahal mereka datang jauh-jauh dari Swiss dan Perancis,” ujar Ketua Yayasan Leuser Lestari (YEL), dr Sofyan Tan, kepada wartawan di Medan, Rabu (12/1/2005).YEL yang mengkoordinir sekitar 250 tenaga sukarelawan dari Pompiers Sansprontieres dari Perancis, Pan Eco dari Swiss, serta sejumlah relawan dalam negeri, juga mengalami kerepotan karena tidak bisa berkoordinasi dengan sejumlah instansi. “Bahkan kesulitan koordinasi itu sudah kita alami sewaktu akan berangkat menuju Aceh.""Tidak jelas kemana kita seharusnya melapor untuk mendapatkan informasi bagaimana dan kemana kita harus berangkat. Setelah tiga hari, baru kita bisa berangkat,” kata Sofyan.Kurang koordinasi itu antarinstansi itu, tukas dia, memang kerap terjadi setiap kali bencana alam terjadi di Tanah Air. "Memang tidak ada sistem tanggap darurat yang mumpuni yang bisa mengatur segalanya menjadi rapi dan baik," tandas Sofyan. YEL dan sejumlah lembaga asing merencanakan membangun sebuah desa yang berwawasan dan ramah lingkungan di bekas daerah korban tsunami. “Kita rencananya akan membangun desa yang rusak, kemudian diarahkan menjadi berwawasan lingkungan misalnya menamam bakau yang sedikit banyak bisa menahan ombak,” demikian Sofyan.
(ton/)











































