Partai ini terbelah menjadi 2 kubu yakni kubu Ketum SDA yang mendorong partainya mendukung Prabowo dan kubu Sekjen partai Romahurmuziy dan Waketum Emron Pangkapi yang berupaya partainya masuk dalam koalisi Jokowi-JK.
SDA berhasil membawa PPP menjadi anggota Koalisi Merah Putih bersama Golkar, PAN, PKS, dan Gerindra. Pertentangan kedua kubu ini bukan barang mudah untuk diselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski mengaku keputusan Mahkamah partai bersifat final dan harus dijalankan, islah kedua kubu tak semudah yang dibayangkan. Hingga saat ini, belum ada pertemuan islah antara kubu SDA dan Romi. Sebaliknya, kubu Romi justru melaksanakan muktamar partai di Surabaya.
Pelaksanaan Muktamar ini pun dikritisi Majelis Syariah partai. Menurut mereka, muktamar baru bisa dinyatakan sah jika dilengkapi tanda tangan Sekjen Romahurmuziy dan Ketum SDA. Akhirnya muktamar kubu Romi dinyatakan ilegal dan pengangkatan Romi sebagai ketum partai tak sah.
Pada saat Muktamar ini berlangsung, Mbah Moen yang baru pulang dari Tanah Suci langsung mengadakan rapat. Kemarin, rapat itu kembali digelar dan disampaikan bahwa Mbah Moen ingin Muktamar dilaksanakan pada 24 Oktober 2014 di Jakarta.
"Beliau harapkan Mukhtamar Islah dilaksanakan 24 Oktober, 4 hari setelah pelantikan Jokowi-JK dan berharap kubu Romi bisa hadir," ujar Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Zarkasih Nur, Jumat (17/10/2014)
Kehadiran Romi menjadi penting karena kubu SDA sudah setuju dengan muktamar Islah itu. Sebagai tokoh yang sangat dekat dengan Mbah Moen, Zarkasih sangat menyesalkan konflik internal partainya berlarut-larut. Ia ingin gonjang-ganjing internai PPP bisa selesai segera.
"Ini harus selesai karena partai ini enggak besar kalau di dalamnya bermasalah. Semoga Muktamar ini PPP bisa kembali bersatu," pungkasnya.
(bil/rmd)











































