Meski begitu, pria 49 tahun itu menegaskan bahwa ia bukanlah calon pimpinan titipan Istana. "Itu tidak benar, silakan buktikan sendiri karena saya ini maju didorong oleh sejumlah LSM," kata Robby saat dihubungi wartawan, Kamis (16/10/2014).
Robby mengatakan, di awal-awal ia tidak berniat mendaftar karena pesimis dengan proses seleksinya. Namun, orang-orang di sekelilingnya terus mendorong untuk maju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robby mengapresiasi pemberantasan korupsi selama pemerintahan Presiden SBY. Meskipun masih jauh dari target yang diharapkan.
"Sebenarnya perbaikan itu sudah dilakukan, dan indikatornya terlihat naik namun ada beberapa yang belum bisa maksimal seperti soal kepartaian. Harusnya dibuat sistem kepartaian yang berintegritas. Saya ingin kalau nanti di KPK ini yang ingin saya garap," jelas Robby.
"KPK butuh pimpinan yang konser terhadap pencegahan. Kalau disadari, pimpinan KPK selama ini orang hukum, orang hukum itukan sering yang dikedepankan itu penindakan karena memang tugasnya orang hukum seperti itu. Padahal korupsi ini bukan hanya fenomena hukum tapi juga fenomena politik sosial dan ekonomi," tambahnya.
(rna/rmd)










































