"Komentar saya adalah menyesalkan pemerintah Malaysia yang melakukan pencekalan," kata Ulil, Selasa (14/10/2014).
Menurutnya, kedatangan dia ke Malaysia untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi dan menyampaikan materi tentang fundamentalisme. Namun pemerintah Malaysia beranggapan Ulil akan mengajarkan ajaran qodani Ahmadiyah, di mana bagi institusi agama Islam di Malaysia, isu qodani Ahmadiyah adalah penyelewengan dari ahlus sunnah waljama'ah.
"Saya rasa itu disinformasi yang keliru. Saya bukan orang Ahmadiyah, saya NU. Tetapi saya berpandangan orang Ahmadiyah harus dihormati, tidak boleh diganggu. Asal tidak melakukan tindakan melawan hukum," jelas Ulil.
Ulil akan menyampaikan materi bagaimana menghadapi masalah akar-akar fundamentalisme yang yang berpangkal pada agama dan politik. Menurutnya kawasan agama sekarang ini sedang menghadapi masalah fundamentalisme, seperti ISIS dan Jamaah Islamiyah. Ada paham keagamaman yang ekslusif dan tidak menerima perbedaan dan sistem politik yang tertutup yang justru bisa menyuburkan fundamentalisme dan radikalisme agama.
"Tidak bisa dipahami sama sekali, melakukan pelarangan terhadap saya. Bagaimana itu dijelaskan, bagaiamana Malaysia yang melarang fundamentalisme malah melarang orang yang akan menjelaskan fundamentalisme," ungkapnya.
Meski dicekal, Ulil akan tetap hadir dalam diskusi tersebut. Namun melalui video konferensi. Ulil juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman di Malaysia yang tetap melanjutkan acara diskusi meski ada kasus pencekalan ini.
"Saya akan tetap hadir dalam seminar itu, tapi lewat Skype, pemerintah bisa mencekal tapi saya akan bicara lewat Skype," kata Ulil.
(slm/ndr)











































