"Kalau kita lihat di Indonesia ini elektrifikasi sekitar 75 persen akan melangkah. Namun di Indonesia timur memang masih rendah. Untuk pilot plan PLTS kita di Gunung Kidul, Yogyakarta," ujar Plt Kepala LIPI Dr Akmadi Abbas saat ditemui dalam acara Internatioal Conference in Sustanaible Energy Engineering and Application (ICSEEA) di Hotel Prama Grand Preanger Bandung, Jalan Asia Afrika, Selasa (14/10/2014).
Pengembangan kawasan Indonesia Timur diupayakan dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada. "Matahari di Indonesia Timur itu bagus untuk pembangkit listrik tenaga surya," katanya.
Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Budi Prawara menambahkan riset Pembangkit Listrik tenaga Surya Rerkonsentrasi ini sudah berjalan selama 3 tahun dan menghabiskan anggaran sebesar Rp 1,7 miliar.
"Pertahun rata-rata pembangunan sollar termal ini di tahun pertama Rp 500 juta, tahun kedua Rp 750 juta dan tahun ketiga Rp 500 juta," jelas Budi.
Teknologi ini bisa mengalirkan listrik di daerah yang belum teraliri listrik. Di mana eergi matahari radiasinya ditangkap di cermin parabolik yang kemudian difokuskan di pipa panas berisi cairan lalu uap dihasilkan akan menggerakkan turbin.
(tya/ern)











































