Transisi Presiden

Tanpa Kirab, Bung Karno Syukuran Pelantikan dengan 50 Tusuk Sate

- detikNews
Selasa, 14 Okt 2014 14:00 WIB
Jakarta -

Ratusan ribu relawan berencana menggelar 'Pesta Rakyat' untuk merayakan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla. Ada tiga acara digelar sepanjang hari pelantikan yang jatuh pada Senin (20/10/2014) pekan depan itu.

Perlukah acara 'Pesta Rakyat' untuk merayakan pelantikan Jokowi-JK? Untuk menjawabnya, mari kita simak bagaimana presiden pertama Indonesia Sukarno merayakan pelantikannya.

Kisah itu dituturkan oleh Bung Karno kepada Cindy Adams, penulis buku 'Penyambung Lidah Rakyat' dan dikutip detikcom, Selasa (14/10/2014).

Sabtu, 18 Agustus 1945 di Gedung Road van Indie di jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Sukarno dan Mohammad Hatta dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia. Tak ada hiruk pikuk, debat sengit, atau pun keriuhan seperti yang sering terjadi di gedung DPR/MPR.

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik Sukarno-Hatta dalam sebuah acara yang sangat sederhana, jauh dari mewah. Bahkan Bung Karno tak ingat lagi orang yang mengusulkan dia sebagai presiden. Pasalnya hari itu Sukarno benar-benar didera kelelahan yang luar biasa.

Selepas diculik dan dibawa ke Rengasdengklok, Bung Karno harus mempersiapkan naskah Proklamasi hingga dini hari. Pagi harinya dia bersama Hatta membacakan naskah Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat.

Yang diingat Bung Karno pada rapat PPKI tersebut hanya usulan dari peserta dengan nada datar. “Nah, kita sudah ber-Negara mulai dari kemarin. Dan suatu negara memerlukan seorang presiden. Bagaimana kalau kita memilih Sukarno?” kisah Bung Karno.

Bung Karno tidak membikin gempar dengan memberikan pidato sambutan, begitu juga rakyat. Tak seorang pun merayakan dengan berlebihan atau 'Pesta Rakyat'. Semua dihimpit waktu. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dihadapi oleh Republik yang baru berusia satu hari.

Sukarno yang resmi diangkat sebagai presiden pun tidak disambut mobil dinas kenegaraan yang mewah. Pria kelahiran Blitar 6 Juni 1901 ini bahkan berjalan kaki menuju kediamannya.

Langkah Sukarno terhenti di sebuah jalan saat dia bertemu dengan seorang tukang sate ayam. Kepala Negara yang sering dipanggil Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia itu pun memanggil tukang sate itu. “Sate ayam lima puluh tusuk!” pinta Sukarno.

Bung Karno pun duduk berjongkok dekat selokan dan kotoran. Dia menyantap lima puluh tusuk sate dengan lahapnya. Seperti itulah Sukarno 'berpesta' merayakan pengangkatan dirinya sebagai presiden. Tanpa kirab budaya, tanpa pesta dan panggung rakyat.



(erd/nrl)