LIPI Kembangkan Bioetanol dari Tanaman Sorgum

LIPI Kembangkan Bioetanol dari Tanaman Sorgum

- detikNews
Selasa, 14 Okt 2014 13:23 WIB
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah mengembangkan sumberdaya pertanian khususnya tanaman Sorgum. Tanaman ini tak hanya sebagai bahan makanan, namun juga bisa menghasilkan bioetanol sebagai energi terbarukan.

"Saat ini yang sedang tren dan bisa dikembangkan yaitu pemanfaatan sumberdaya pertanian yaitu tanaman Sorgum," Plt Kepala LIPI Dr Akmadi Abbas saat ditemui dalam acara Internatioal Conference in Sustanaible Energy Engineering and Application (ICSEEA) di Hotel Prama Grand Preanger Bandung, Jalan Asia Afrika, Selasa (14/10/2014).

Ia mengatakan, sebagai tanaman, Sorgum tidak hanya diambil sebagai bahan makanan namun dari batangnya bisa dimanfaatkan menjadi gula cair dan bioetanol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sorgum ini bisa ditanam di lahan kering sekalipun sehingga tepat untuk daerah yang lahannya kering," katanya.

Jika produksi etanol dilakukan di dalam negeri maka menurutnya itu akan mengurangi biaya bahan bakar. "Kalau dari hulu ke hilir dilakukan di sini maka costnya akan lebih sedikit karena lebih dekat dengan bahan mentahnya," tutur Akmadi.

Menurutnya, tanaman Sorgum ini sudah ditanam di sejumlah lokasi seperti di NTT dan pulau Jawa. "Tinggi tanamannya 4-5 meter, padahal biasanya tanaman ini relatif pendek," jelasnya.

Selain sorgum, menurut Akmadi, LIPI telah melakukan berbagai riset untuk mencari alternatif sumber energi, namun hasil pengembangannya masih belum didukung komitmen pemerintah.

"Kami sudah banyak melakukan upaya dalam rangka kelitbangan. Di antaranya riset energi terbarukan mulai dari mikrohidro, energi tenaga surya, bioenergi hingga geotermal. Ada yang sudah diterapkan meski belum dalam skala besar," ujar Akmadi.

Ia mengatakan pemerintah saat masih terfokus dengan energi minyak yang justru cadangannya makin menipis. "Cadangan minyak yang menipis memaksa kita harus mencari alternatif sumber energi baru untuk menjaga kelangsungan pembangunan," katanya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya bisa mengalihkan subsidi untuk premium untuk pengembangan energi terbarukan lain. "Jangan hanya wacana saja," tutur Akmadi.

Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Budi Prawara menambahkan, pemerintah selama ini kurang berkomitmen untuk peralihan energi. Sebagai contoh, infrastruktur pendukung untuk energi terbarukan belum disediakan sehingga menyulitkan dalam penerapannya.

"Misalnya sewaktu pindah ke gas tapi infrastruktur stasiun pengisiannya tidak dibuat. Di Bandung saja contohnya, mau kita bagikan konverternya tapi tidak ada SPBG kan tidak ada yang mau," jelasnya.

(tya/ern)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads