Beredar Surat Kaleng Mosi Tak Percaya Agung Laksono
Rabu, 12 Jan 2005 14:55 WIB
Jakarta - Surat kaleng berisi mosi tidak percaya kepada Ketua DPR Agung Laksono beredar di DPR. Surat itu mengatasnamakan Himpunan Kader Untuk Pemurnian Konstitusi dan Idiologi Partai Golkar.Namun, anehnya surat itu tertanggal 5 Januari 2004. Dalam surat itu dipaparkan sejumlah alasan mengapa Agung Laksono harus diturunkan dari jabatan ketua DPR RI. Agung Laksono terpilih sebagai ketua DPR atas dukungan Koalisi Kebangsaan. Namun sejak diangkat sebagai wakil ketum Partai Golkar, Agung dengan gamblang mengatakan Koalisi Kebangsaan tidak diperlukan lagi. Agung Laksono melakukan penghianatan politik kepada Akbar Tandjung. Padahal Akbar yang memperjuangkan Agung menjadi ketua DPR dan Agung beserta keluarganya berjanji mendukung Akbar sebagai ketum Partai Golkar di Munas VII. Tinggal tunggu waktunya, Jusuf Kalla dan bahkan DPR dikhianati pula. Agung Laksono tidak konsisten dan selalu mengubah keputusan sesuai arus kuat. Ini terlihat dari keruwetan yang terjadi pada awal masa sidang DPR periode 2004-2009. Jadi jangan heran jika Agung akan selalu berusaha mendekatkan DPR pada eksekutif. Sejak terpilih menjadi wakil ketua umum Partai Golkar, Agung telah menempatkan DPR sebagai subordinat presiden dan wapres. "Kami kader Golkar tidak rela lembaga terhormat DPR dipimpin oleh oportunis," demikian pernyataan akhir surat kaleng itu. Surat kaleng itu mendapat tanggapan dari sejumlah anggota dewan. Menurut anggota FPDIP DPR Permadi, ketidakpercayaan terhadap Agung memang meningkat. "Tapi harusnya disampaikan secara jantan. Surat seperti ini jangan ditanggapi," tandasnya di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (12/1/2005). Pendapat hampir sama dilontarkan Ketua FPBR DPR Bursah Zarnubi. "Ini mungkin reaksi kepada pimpinan dewan yang ikut Munas Golkar. Tapi harusnya ada prosesnya. DPR kan transparan. Ngapain pakai surat kaleng," katanya. Sementara anggota FPG DPR Haviz Zawawie yakin surat kaleng itu dibuat oleh orang di luar Golkar. "Tidak mungkin orang dari Golkar yang membuat surat ini," ujarnya. Agung sendiri belum bisa dikonfirmasi karena masih berada di Vietnam.
(rif/)











































