Alasan Ahok menargetkan tiga kali nonton bareng dengan para PNS DKI agar para PNS tersebut peduli terhadap perfilman Indonesia. Dengan demikian bisa mendorong bangkitnya industri perfilman di tanah air.
"Kami berharap harusnya film Indonesia potongan pajaknya bisa kami kasihkan kembali 75% supaya bisa membangkitkan kembali perfilman kita. Saya enggak tahu, yang penting film Indonesia harus baguslah, makanya saya juga mau dorong setahun minimal 3 kalilah nonton film. Dorong semua pejabat itu punya hati kepada perfilman. Kami juga pilih film-film yang menyentuh. Yang lucu juga banyak," ujar Ahok usai menonton film 'Tabula Rasa' bersama jajaran PNS pemprov DKI, di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/10/2014) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya saya paling ingat film Rhoma Irama. Itu orang kampung bisa bertruk-truk yang datang. Bing Slamet, Ateng Ishak, Ateng Koboy Cengeng, itu semua masih ingat dukun palsu. Saya kira masa itu hilang. Ketika itu semua bioskop harus "bagi hasil" kalau tidak, tidak dapat film. Itulah awalnya semua bioskop itu rontok," jelas suami Veronica ini.
"Film yang baik mendukung perfilman nasional," tambahnya.
Dari segi pemerintahan sendiri, Ahok mengatakan saat ini Pemprov DKI berencana untuk mencari celah menghadirkan sarana menonton film bagi warga. Nantinya, dalam kesempatan itu dibarengi dengan penyampaian program-program yang tengah digodok Pemprov DKI.
"Makanya kami lagi pikirin, apa di kantor wali kota, apa di luar sambil di tengah film distop untuk menyampaikan program-program itu yang Ridwan Kamil ajarkan ke saya. Saling share," katanya.
Untuk biayanya, lanjut Ahok, akan menggunakan dana operasional Pemprov DKI. Namun film yang akan ditayangkan haruslah yang berbobot, terutama buatan Indonesia, untuk membangkitkan gairah industri film tanah air.
"Tergantung kalau ada film bagus kami keluar aja. Sesuatu buat bangsa yaitu industri film. Kalau bicara ke depan, itu Hollywood bisa kaya karena kreatif. Film salah satu produk kreatif ini yang kami dorong. Ke depan bukan bicara industri lagi tapi industri kreatif. Ini campur aduk nih ada Batak, Sunda, Palembang," ungkapnya.
"Saya semua film suka. Mulai dari drama, action, untuk anak-anak kartun saya suka yang penting punya nilai-nilai bisa dapatin sesuatu yang berarti," tambahnya.
(ros/jor)










































