Soal Video Bullying, KPAI Berencana Usut Pihak Sekolah SD Bukittinggi

Soal Video Bullying, KPAI Berencana Usut Pihak Sekolah SD Bukittinggi

- detikNews
Senin, 13 Okt 2014 18:57 WIB
Soal Video Bullying, KPAI Berencana Usut Pihak Sekolah SD Bukittinggi
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan berkoordinasi dengan pihak pemerhati anak di Bukittinggi untuk menindaklanjuti kasus video kekerasan di salah satu SD Bukittinggi, Sumatera Barat. Jika pihak sekolah dinilai melakukan pembiaran terhadap terjadinya kekerasan antar siswanya, maka KPAI akan mengusut pihak sekolah ke ranah pidana.

"Kita lihat progresnya ke depan. Kalau memang progresnya tidak sesuai target, tentu kita akan lakukan penindakan terhadap pembiaran itu," kata ‎
‎Ketua Divisi Sosialisasi dan Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Susanto, di kantornya, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Senin (13/10/2014).

KPAI akan segera mengirim Wakil Ketuanya ke Bukittinggi guna mengorek informasi soal isu ini. Menurut Susanto, karena kekerasan tersebut terjadi di sekolah maka pihak sekolah yang harus bertanggung jawab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasal pidana bisa dikenakan terhadap pihak-pihak di sekolah. Apalagi terjadinya kekerasan, yang menurut KPAI terjadi pada pertengahan September, terjadi saat jam pelajaran.

"Memang ada pasal pidana, itu teman-teman pihak hukumlah yang akan melakukan upaya terkait pasal mana yang berkaitan. Yang jelas, peredaran videonya kita dorong untuk diproses, tindak pembiaran terjadinya kekerasan juga diproses, dan pelaku dan korban yang sejatinya adalah korban juga dilindungi," tutur Susanto.

Menurut KPAI, Dinas Pendidikan setempat harus memberi perhatian terhadap kasus ini. Apakah guru yang melakukan pembiaran perlu dipecat?

"‎Itu domain Dinas Pendidikan untuk melakukan tindakan terhadap sekolah dan guru yang bersangkutan. Yang pasti, ini layak diatensi secara khusus oleh Dinas Pendidikan, karena ini berpotensi mginspirasi sekolah lain untuk melakukan hal yang sama‎," tutur Susanto.

Ketua KPAI Asrorun Ni'am Sholeh menambahkan, aksi kekerasan yang dilakukan oleh anak di bawah umur ini juga perlu dilihat dari aspek yang mempengaruhi si anak untuk bertindak seperti itu. Tayangan dan tontonan dinilai berkontribusi terhadap pembentukan sikap anak-anak itu.

"‎Kami bisa lihat gesturnya, dengan nyaman dan dengan santainya, seolah-olah itu menjadi kebiasaan. Itu pasti ada pikiran sebelumnya, dan referensi paling jelas adalah tayangan. Misal kartun-kartun yang ternyata mengenai kekerasan. Mainan anak di pusat perbelanjaan yang isinya didominasi kekerasan. Ini berkontribusi terhadap perilaku kekerasan," tutur Ni'am.

(dnu/rmd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads