DetikNews
Senin 13 Oktober 2014, 17:05 WIB

Sidang Korupsi Perpustakaan UI

Ketua Panitia Baru Dapat SK Usai Lelang Proyek Perpustakaan UI

- detikNews
Jakarta - Ketidakberesan proyek infrastruktur teknologi informasi gedung perpustakaan Universitas Indonesia kembali terungkap di persidangan. Emirhadi, ketua panitia lelang mengakui baru menerima SK sebagai panitia lelang setelah proses lelang selesai.

"(SK lelang) sekitar bulan November-Desember 2010. Setelah lelang selesai," kata Emirhadi bersaksi untuk mantan Wakil Rektor UI Tafsir Nurchamid pada sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (13/10/2014).

Padahal proses lelang yang diawali dengan pengumuman pengadaan instalasi infrastruktur IT Perpustakaan UI dimulai pada 26 Oktober 2010. Saat itu lelang diikuti 4 perusahaan yakni PT Gita Karya, PT Ikoneksi Darma, PT Data Script dan PT Netsindo Inter Buana. Perusahaan yang terakhir disebut ditetapkan sebagai pemenang lelang pada 10 Desember 2010.

Ketidakberesan pelaksanaan proyek juga terlihat ketika Emirhadi tak tahu ada kongkalikong untuk mengarahkan PT Makara Mas menjadi pelaksana pekerjaan proyek dengan menggunakan bendera PT Netsindo Inter Buana dalam proses pelelangan. "Saya pertama tidak tahu, tahunya saat audit BPK," sambungnya.

Emirhadi menyebut penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS)memang dibuat berdasarkan hitung-hitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dibuat PT Makara Mas. Namun dia baru belakangan mengetahui kalau PT Makara Mas yang membuat RAB atau engineering estimate (EE). "Saat itu tidak diinformasikan (pembuat EE) tapi belakangan diberitahu, perencananya Makara Mas," tuturnya.

Makara Mas menyusun RAB/EE pengadaan hardware dan software IT Perpustakaan UI sebesar Rp 26 miliar namun diubah menjadi Rp 20,454 miliar. "Itu yang dijadikan dasar lelang," sambungnya.

Tafsir Nurchamid didakwa bersama sejumlah orang termasuk Gumilar Rusliwa Somantri melakukan korupsi proyek instalasi infrastruktur teknologi informasi gedung perpustakaan UI.

Jaksa menyebut dalam proses penganggaran, pengadaan barang dan jasa proyek, Tafsir telah mengarahkan untuk memenangkan perusahaan tertentu. Kerugian keuangan negara akibat penyimpangan ini mencapai Rp 13,076 miliar.

Sedangkan Tafsir didakwa memperkaya diri dari proyek ini dengan menerima satu dekstop merk Apple dan satu iPad.


(fdn/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed