Putusan Mahkamah PPP diterbitkan Sabtu, 11 Oktober lalu. Mahkamah PPP yang diketuai oleh Chozin Chumaidy ini hanya mengakui kepengurusan PPP dengan Ketum Suryadharma Ali dan Romahurmuziy. Keputusan atau pun surat-surat DPP PPP yang diambil tanpa tanda tangan keduanya dianggap tidak sah.
"Semua kebijakan dan kegiatan partai di tingkat nasional hanya sah apabila dilakukan oleh Pengurus Harian DPP Partai Persatuan Pembangunan sebagaimana dimaksud angka 1 (satu) di atas, termasuk untuk penyelenggaraan Muktamar VIII PPP," demikian bunyi salah satu poin putusan Mahkamah Partai PPP yang dikutip detikcom, Senin (13/10/2014). Yang dimaksud angka 1 adalah PPP dipimpin oleh Ketum Suryadharma Ali dan Sekjen Romahurmuziy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Muktamar VII Partai Persatuan Pembangunan harus diselenggarakan oleh DPP Partai Persatuan Pembangunan yang didahului Rapat Pengurus Harian DPP PPP untuk membentuk kepanitiaan dan menetapkan tempat diselenggarakannya muktamar. Surat Undangan dan Surat-surat lainnya berkaitan dengan pelaksanaan Muktamar VIII PPP harus ditandatangani oleh Ketua Umum DR H. Suryadharma Ali, M. Si., dan Sekretaris Jenderal Ir. H.M. Romahurmuziy, MT," demikian bunyi poin lain dari putusan Mahkamah Partai PPP.
Seperti diketahui baik Suryadharma Ali dan Romi sudah menyiapkan Muktamarnya masing-masing. Surat keputusan soal Muktamar yang digelar kubu Romi hanya ditandatangani Sekjen Romahurmuziy tanpa Ketum Suryadharma Ali. Sebaliknya, Muktamar yang digelar Suryadharma Ali hanya ditandatangani Suryadharma sendiri tanpa Sekjen.
(trq/nrl)










































